Category Archives: Film Remaja

Korea’s Love Story

Standar

Sebenarnya, kami, sudah bukan lagi pengkonsumsi film-film remaja. Mayoritas bertemakan drama kehidupan. Terutama kisah-kisah Korea. Namun, sesi kali ini sengaja kami hadirkan, sebuah kisah yang bisa dibaca, atau mungkin bisa dipetik hikmah kehidupan baik yang tersirat maupun yang tersurat dalam tulisan di bawah ini. Jujur saja, kali ini kami belum bisa berkomentar banyak mengenai cerita di bawah ini. Karena masih terlalu kekanak-kanakan (menurut kami pribadi). Tetapi alasan kami untuk tetap menghadirkannya bagi para readers, karena kami harap, para remaja kini, bisa ikut berbagi bahan cerita melalui blog kami.

Bahkan kami sangat berterimakasih sekali. Apabila disisipkan pesan dan kesan sebagai komentar di blog kami. Minimal kami mengetahui tingkat kebutuhan para readers sekalian. Apakah dominan ke artikel atau membutuhkan informasi lain yang bisa dishare kan bersama dalam sebuah forum. Memang blog ini dibuat untuk wadah inspirasi bersama. Agar semakin meningkatkan minat 2 hal, yaitu membaca dan menulis. Simple bukan? membaca seperti kebanyakan orang, sudah dipelajari sejak dini.

Tetapi, bila bahan atau materi bacaan hanya sekedar untuk sepintas lalu, tanpa menumbuhkan kesan apapun, maka akan sama dengan membaca anak usia sekolah. Sekedar tahu dan bisa. Padahal, dengan membaca, diharapkan akan muncul ide-ide baru penuh kreativitas yang akan meningkatkan otak, dan tentunya peningkatan produktifitas dan tentu nilai diri yang tinggi. Tanpa membaca, bagaimana informasi dapat sampai kepada seseorang. Mungkin bisa dilakukan dengan metode lain, misal langsung mendengar dari narasumber, dan dipraktekkan. Bisa menjadi efektif bagi beberapa orang, namun tidak untuk semua orang.

Baiklah, silahkan membaca, selamat membaca dan tentunya, semoga semakin menambah manfaat bagi semua. Saling berbagi manfaat tentu akan lebih indah. Wallahu’alam bis sowab.

Unusual Wedding (Love and Lie)

Author’s POV

http://sapphirebluelover.wordpress.com/2012/02/07/unusual-wedding-love-and-lie/

Seorang pria menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghalau beberapa kelebatan yang terasa mengusik ketenangannya. Tetesan peluh mulai mengalir di dahinya, sayangnya mata itu tetap tak mau terbuka.

Siluet tubuh seorang gadis yang berdiri di samping seorang pria berjas hitam itu sedikit menarik perhatiannya, tapi wajah itu terlihat sangat buram dimatanya. Kekehan bahagia gadis itu seolah menghipnotis drinya untuk sesaat. Shock.. Shock saat matanya menangkap wajah pria yang berdiri di samping gadis bergaun putih selutut itu. Sama persis dengan wajahnya.

Tubuh itu kembali menegang saat gemuruh tepuk tangan yang membahana seiring dengan sebuah cincin yang disematkannya di jari manis gadis itu.

“ANDWAEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!! APAKAH TERLALU EGOIS JIKA AKU MENGINGINKAN KAU MENJADI MILIKKU, LEE DONGHAE??”

Tapi lengkingan itu.. Lengkingan suara itu seakan menariknya ke dasar jurang.. lengkingan itu terasa menyakitkan.

Seiring menghilangnya jeritan itu, perlahan matanya terbuka. Merasa begitu lega ketika menyadari bahwa dirinya masih berada di tempat yang sama seperti sebelum dirinya menutup mata tadi malam. Hembusan napasnya terasa begitu berat, ditambah dengan beban sakit kepalanya yang tiba-tiba menyerang, membuatnya semakin tersiksa.

“Kau sudah bangun, oppa?”

Sapaan lembut itu mengalun begitu indah seiring dengan decitan pintu kamarnya yang terbuka. Tangannya yang semula terbenam di rambut hitamnya, segera ditariknya, tak ingin membuat seorang wanita yang tengah berjalan mendekatinya dengan tangan yang membawa sebuah nampan itu menjadi khawatir.

“Ne, aku baru saja bangun.”

Gadis itu hanya tersenyum simpul sembari meletakkan segelas teh di atas meja.

“Bagaimana tidurmu?”

“Cukup nyenyak.”

“Baguslah. Aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi-mu. Dan setelah itu aku harus pergi bekerja. Maaf aku tidak bisa menemanimu sarapan, aku sedang terburu-buru.”

Senyum pria itu tersungging begitu saja mendengar nada menyesal yang begitu kentara di telinganya. Yah selalu merasa lebih baik ketika melihat berbagai ekspresi yang selalu muncul di wajah gadis yang diketahuinya sebagai istrinya itu.

“Arasseo,” jawab pria itu pelan.

Mendengar persetujuan dari suaminya, gadis itu langsung berbalik menuju kamar mandi. Berusaha melakukan aktivitas rutinnya setiap hari, melayani sang suami dengan baik.

“Gaeul~a,” panggilan itu kembali membuat langkahnya terhenti dan menoleh ke belakang. “Maaf selalu menyusahkanmu. Seharusnya aku yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.”

Gadis itu sedikit terkesiap, tapi sedetik kemudian kakinya kembali melangkah mendekati suaminya. Mata hitamnya terus tertuju ke manik mata pria itu. Dan entah kenapa, setiap kali gadis itu menatapnya seolah pria itu baru saja merasakan debaran yang aneh di dadanya, seperti sengatan listrik yang menyerang tubuhnya. Merasa sangat heran karena seharusnya dia sudah terbiasa melihat bola mata hitam itu. Seperti yang dikatakan istrinya, mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Mengingat fakta itu, bukankah dia seharusnya bisa bersikap biasa menerima tatapan itu?

Gadis itu duduk di tepi ranjang, mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah suaminya. Begitu terlihat dengan jelas di setiap sentuhan dan tatapannya bahwa gadis itu selalu memprioritaskan pria itu. Selalu menempatkan pria itu diurutan teratas di dalam tujuan hidupnya.

“Oppa, disaat aku bisa memilikimu, aku tidak peduli apa yang bisa kau lakukan atau apa yang tidak bisa kau lakukan. Aku rela melakukan apa pun asal kau tetap berada di sisiku, menjadi milikku. Dan aku mungkin akan mati secara perlahan jika ternyata faktanya kau sudah tak berada di sisiku. Sekarang, biarkan aku menikmati semua ini. Menyadari bahwa aku bisa melakukan sesuatu untukmu. Selama aku menjadi istrimu, maka biarkan aku menjadi istri yang baik untukmu, hmmm??”

*****

Donghae’s POV

Aku hanya memandangi punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu kamarku. Kamarku? Yah karena nyatanya aku dan dirinya tidur di kamar yang berbeda. Rumah ini tidak begitu besar, tapi terasa begitu sepi bagiku. Sepanjang hari aku menghabiskan waktuku di dalam rumah hingga akhirnya istriku pulang, dan di saat itu aku mulai sedikit merasa bahwa aku memiliki teman di dunia ini.

Entah bagaimana kehidupanku sebelumnya. Aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Bahkan aku tak mengenal diriku sendiri. Bagaimana sosok diriku yang dulu? Entahlah, tapi itu tidak begitu masalah bagiku. Tapi aku mengutuk diriku sendiri bagaimana bisa aku melupakan istriku? Melupakan wanita yang aku cintai? Bagaimana aku bisa mengenal wanita yang kucintai? Pernikahan.. bukankah pernikahan akan terjadi karena cinta yang mendasarinya? Lalu kenapa aku melupakan cintaku sendiri?

Pertanyaan itu begitu sesak di kepalaku. Aku merasa seperti bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia ini, bayi yang mulai menciptakan momen-momen penting di dalam hidupnya. Bayi yang sedang berusaha membuat kenangan baru untuk hidupnya. Sayangnya bayi ini tidak seperti bayi biasa, yang mengalami fase kehidupan. Karena nyatanya aku merasa dilahirkan kembali ke dunia di wujud fisikku yang tidak pantas dikategorikan seorang bayi.

Lima bulan yang lalu, saat pertama kali membuka mata aku sudah berada di salah satu rumah sakit di paris, setelah satu minggu mengalami koma. Dan orang yang pertama kali kulihat adalah dirinya. Gadis yang bahkan rela menjual rumah peninggalan keluarganya hanya untuk memberikan perawatan medis yang lebih baik untuk diriku.  Kecelakaan.. Kecelakaan itu merampas masa laluku. Gaeul mengatakan bahwa mobilku masuk jurang dan hingga akhirnya dokter memvonisku terkena amnesia.

Aku turun dari ranjangku, dan melangkah keluar kamar. Kupandangi setiap sudut rumah kecil yang disewa oleh Gaeul dengan hasil kerja kerasnya di kota Meokpo ini. Setelah satu bulan menjalani perawatan medis di Paris, gadis itu kembali membawaku ke Negara ini dan menetap di rumah kecil ini. Rumah ini terlihat begitu polos. Tak ada satu foto pun yang menunjukkan momen bahagianya suatu pernikahan. Hanya beberapa foto masa kanak-kanak kami dan beberapa foto masa remaja yang menunjukkan keakraban kami. Gaeul mengatakan foto itu diambil dihari ulang tahunnya yang ke delapan belas.

Kisah hidupku bersamanya sepertinya saat mengasyikkan. Berteman sejak kecil hingga akhirnya dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan, bukankah itu sangat indah? Tapi bodohnya aku sama sekali tak bisa mengingatnya. Aku seolah harus belajar dari awal untuk memahami dirinya. Apa yang dia suka? Apa yang dia benci? Bagaimana wataknya? Terasa sangat bodoh disaat kau mulai belajar mengenal seorang gadis yang bahkan sudah resmi menjadi istrimu. Meskipun bukti resmi itu pun tidak ada. Terdengar konyol memang, bahkan aku pun sulit mempercayai fakta itu. Fakta bahwa ternyata pernikahan kami tak dihadiri seorang pun anggota keluarga. Fakta bahwa pernikahan itu terjadi tanpa restu dari keluargaku dan mengingat bahwa dia sudah tak memiliki siapa pun lagi sejak tiga tahun yang lalu. Bahkan orang tuaku merobek surat pernikahanku dengan dirinya. Ini terlihat bodoh. Keluarga apa yang kumiliki?

Susah untuk dipercaya, tapi disisi lain terlalu menyakitkan jika aku mencoba meragukannya, karena entahlah, meskipun aku tak mengerti perasaanku terhadapnya, tapi aku begitu bersyukur mendapatkan istri seperti dirinya. Tidak mungkin.. Tidak mungkin dia akan berbuat sejauh ini, sebaik ini jika memang tak memiliki hubungan apa pun dengan diriku. Bahkan rela tak mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Merasa tak masalah meskipun harus tidur terpisah denganku hanya untuk menjaga mentalku. Berusaha membuatku tak tertekan dengan semua ketidakberdayaanku untuk mengingat dirinya. Bahkan dengan sabarnya menungguku untuk kembali mencintainya.  Walaupun hanya beberapa bulan, aku tau gadis ini bukan gadis yang pintar berbohong.

*****

Kepalaku menoleh begitu saja mendengar hentakan langkah seseorang di teras rumah. Tanpa perlu melihatnya terlebih dahulu, aku sudah tahu siapa yang berada di balik pintu itu. Aku juga tidak mengerti, bagaimana aku bisa mengenal setiap langkah kakinya. Setidaknya aku cukup bahagia mendapati kenyataan ini, masih ada hal lain yang bisa kukenali dari dirinya.

Senyumku tersungging begitu saja ketika mendapati wajahnya. Wajah itu terlihat lusuh dan lelah, tapi anehnya justru pancaran kecantikan wajah itu tak pernah berkurang sedikit pun. Ada kehangatan lain yang menjalari hatiku saat mataku bisa menangkap sosok tubuhnya.

“Oppa,” sapanya dan kubalas dengan senyumanku.

Gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang kududuki. Merebahkan kepalanya dengan manja di bahuku, membuatku bisa mencium aroma rambutnya yang menguar begitu kuat.

“Hari ini benar-benar menyebalkan,” gerutunya. “Kau tahu? Hyukjae oppa membawaku ke tempat yang begitu jauh hanya untuk mengambil objek favoritnya. Setelah itu aku harus menghadapi gadis yang begitu cerewet. Astaga bagaimana pria itu bisa betah menghadapi calon istrinya? Gadis itu terus saja memprotes diriku dan mengintimidasiku dengan kata-kata aku ingin foto pernikahanku terlihat sempurna, jangan melakukan kesalahan sedikit pun. Gadis itu benar-benar menyebalkan. Bahkan Hyukjae oppa juga diam saja saat gadis itu memakinya.”

“Itu resiko pekerjaanmu, Gaeul~a,” timpalku yang langsung membuatnya mengangkat kepalanya dan menatapku sebal. Satu hal yang kuketahui, gadis ini akan selalu menggembungkan pipinya kesal saat aku tidak meng-iya-kan ucapannya.

“Yak oppa, seharusnya kau membelaku. Kau menyebalkan sekali, Lee Donghae.”

Tawaku keluar begitu saja melihat ekspresi wajahnya. Jari-jemarinya bergerak pelan memukul lenganku yang terasa hanya seperti gigitan semut bagiku, melampiaskan kekesalannya. Dan aku selalu suka melihat ekspresinya yang seperti itu.

“Yak, aku suamimu, berani sekali kau menyebut namaku tanpa embel-embel oppa.”

“Aku tidak peduli,” balasnya dan langsung duduk memunggungiku.

Gadis ini benar-benar… Sepertinya sifat kekanakan memang tak pernah bisa luput dari dirinya. Kuacak pelan rambutnya membuatnya mengerang pelan.

“Hentikan, oppa,” teriaknya sembari menarik tanganku, kemudian melingkarkan tangannya di lenganku, kembali merebahkan kepalanya di bahuku.

“Kau bekerja di dunia fotografi. Sebagai seorang asisten fotografer kau harus memaklumi setiap protes penerima jasamu. Dan sebagai seorang wanita kau pasti bisa memahami gadis itu. Semua gadis di dunia ini pasti menginginkan pernikahan yang sempurna. Wanita mana pun pasti ingin terlihat cantik saat tubuhnya berbalut gaun pengantin. Jadi, gadis itu hanya menyuarakan isi hatinya bahwa dia tidak mau terlihat jelek meskipun itu hanya di selembar foto, kau mengerti?”

Foto? Seharusnya aku memikirkan ini lebih awal. Tapi lihat sekarang, aku justru menasihatinya seolah-olah aku pria yang sangat mengerti mengenai hal itu.

Aku sedikit tersentak ketika menyadari tangannya yang melingkar di lenganku terlepas begitu saja, tapi gantinya tangan lembut itu melingkar di sekeliling tubuhku, memeluk tubuhku. Membuat wajahku memanas secara tiba-tiba. Sejak lima bulan yang lalu mengetahuinya sebagai istriku, ini pertama kalinya terjadi kontak fisik yang begitu intim diantara kami. Selama ini aku hanya berani menggenggam tangannya, menyentuh wajahnya ataupun membiarkannya bersandar di bahuku. Kutundukkan kepalaku untuk melihat wajahnya, sayangnya kepalanya yang menempel di bahuku membuatku tak bisa melihatnya dengan jelas.

“Ne, Arasseo,” jawabnya pelan.

*****

Author’s POV

“Akhhhh..”

Jeritan pelan dari arah dapur itu sontak membuat Donghae berdiri dan berlari-lari kecil menuju sumber suara.

“Gwaenchanayo?”

Nada panik itu langsung meluncur dari mulutnya saat mendapati Gaeul yang tengah memegangi jarinya yang terluka. Sedikit tergesa-gesa kaki Donghae melangkah mendekati Gaeul dan tanpa sadar langsung menyambar tangan itu kemudian mengecup jari telunjuk yang mulai mengeluarkan darah itu. Setelah itu dengan cekatan Donghae membasuh luka itu dan membersihkannya.

“Gwaenchana?” tanyanya lagi. “Aku kan sudah mengatakan padamu, kau tidak perlu memasak makan malam untukku. Kau sudah terlalu lelah hari ini. Bahkan sekarang kau melukai tanganmu sendiri.”

Tapi gadis di hadapannya hanya terdiam tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari mata Donghae. Menyadari hal itu membuat Donghae langsung menarik tangannya yang masih menggenggam tangan Gaeul, merasa salah tingkah saat sadar apa yang baru saja dilakukannya. Bahkan dia merasa apa yang dilakukannya tadi tanpa perintah otak sama sekali. Membuatnya sedikit pusing dengan reaksinya yang tak terduga itu.

“Oppa, tanganku terluka…”

“Aku tidak suka melakukan hal yang sama dengan pria lain yang biasa menghisap darah gadisnya. Itu sedikit menjijikkan.”

“Aisss tapi aku akan kekasihmu, seharusnya kau melakukan hal romantis seperti itu.”

Kelebatan itu hadir begitu saja. Membuat dunianya terasa begitu gelap. Donghae menggerakkan kepalanya pelan, menghalau potongan adegan yang terlihat bagaikan sebuah film baginya. Anehnya lagi-lagi gadis itu begitu buram di dalam ingatannya, bahkan suara itu terdengar asing di telinganya. Membuat kepalanya sakit tak tertahankan. Mati-matian dirinya menahan agar tubuhnya tidak tumbang.

“Gomawo,” Nada lembut itu seakan menariknya kembali. Membuat dadanya yang semula kosong, seakan terisi oksigen kembali. Tatapan hangat gadis itu membuatnya merasa lebih baik. “Terima kasih kau sudah mengkhawatirkanku, oppa.”

*****

Gaeul menggeliat pelan, merasa sangat terganggu dengan seseorang yang menarik-narik selimutnya dengan paksa. Dengan malas gadis itu membuka matanya dan ketika mendapati orang yang mengganggu tidurnya, sontak tangannya menarik bantal yang ada di sampingnya kemudian melemparkan bantal itu.

“Oppa, ini masih terlalu pagi. Lagi pula, bukankah kau juga tak suka menyantap sarapan sepagi ini? Jadi biarkan aku tidur sepuluh menit lagi, setelah itu aku akan menyiapkan sarapanmu” protesnya.

Tapi pria itu tak menggubrisnya sama sekali dan malah menarik tangan Gaeul hingga tubuh mungil itu terduduk di atas ranjangnya. Dengusan sebal meluncur begitu saja dari bibir gadis itu, sedangkan tangannya mengacak rambutnya gusar.

“Hari ini kau libur ‘kan?” Tanya Donghae antusias dan hanya dijawab dengan gumaman oleh Gaeul. “Bagaimana jika kita jalan-jalan keluar hari ini? Aku sudah cukup bosan tinggal di dalam rumah terus. Kakiku juga sudah bisa berjalan dengan benar, jadi kurasa tidak masalah jika kita berjalan sedikit jauh.”

Gaeul menolehkan kepalanya, menatap pria itu lekat, berusaha mencari keseriusan di mata pria itu.

“Oppa yakin? Kakimu..” tanyanya memastikan.

“Aku baik-baik saja. Kau kan tau Sudah satu bulan ini kakiku pulih dan aku bisa berjalan dengan baik.”

“Memangnya oppa mau kemana?”

Senyuman itu tersungging begitu saja, seolah gadis di hadapannya itu sudah mengabulkan permintaannya, padahal gadis itu belum mengatakan apa-apa.

“Memangnya ada tempat yang lebih indah dari pantai di Meokpo ini?”

Gaeul hanya terkekeh pelan, sangat mengerti maksud ucapan pria yang sudah dikenalnya selama lima belas tahun terakhir ini.

“Baiklah. Tapi kita tidak mungkin bermain di sana sepegi ini ataupun saat matahari berada di atas kepala. Setidaknya, tunggulah hingga sore.”

“Terserah kau saja. Asalkan kau membawaku ke sana hari ini.”

*****

“Haaahhhhhhhhhhh”

Donghae hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat wanita dengan rambut yang di gulung sembarangan, berlari-lari kecil mengejar ombak. Terlihat seperti anak kecil yang begitu gembira. Merasa lucu dengan perubahan wanita itu secara tiba-tiba. Wanita yang semula terlihat tak begitu berminat membawanya kemari tapi ketika melihat ombak justru gadis itu lah yang terlihat lebih antusias daripada dirinya. Angin pantai yang cukup kencang seolah ingin membawa terbang tubuh mungilnya itu.

Berkali-kali, gadis itu mengejar ombak-ombak kecil tapi akan langsung berlari ketika ombak besar itu yang berbalik mengejarnya. Sedangkan tangannya tak henti-hentinya meraup pasir basah itu, kemudian melemparkannya pada deburan ombak pantai. Donghae merasa tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Merasa selalu heran, kenapa begitu bahagia setiap kali melihat gadis itu tertawa? Dia benar-benar terlihat begitu ringan, seolah beban yang disimpannya selama ini lepas begitu saja. Angin pantai memang mendinginkan hatinya, tapi tak dipungkiri pria itu, ada hal lain yang lebih menyejukkan hatinya.

Tawa Donghae meledak begitu saja, saat ombak berhasil menumbangkan tubuh mungil istrinya, membuat tubuh itu basah kuyup. Mendengar tawa Donghae yang keras, pipi itu kembali terlihat menggembung. Donghae melangkahkan kakinya mendekati Gaeul dan tawanya semakin meledak melihat wajah Gaeul yang mulai dikotori butiran-butiran pasir pantai.

“Yak..” geram Gaeul dan tiba-tiba saja mencipratkan air pantai itu ke baju Donghae.

“Hentikan Gaeul~a. Aku tidak mau basah kuyup.”

“Siapa suruh menertawakanku?” balasnya.

Donghae hanya terkekeh geli mendengarnya. Tiba-tiba saja Donghae mengulurkan tangannya, dan tentu saja membuat dahi wanita itu berkerut dengan seketika.

“Aku kemari bukan untuk bermain air. Aku kemari karena aku ingin berjalan menyusuri pinggir pantai itu sembari melihat matahari terbenam. Kaja.”

*****

 

“Apa kita pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?”

Pertanyaan itu membuat kepala Gaeul menoleh, mendapati wajah pria yang berjalan di sisinya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada jemari Gaeul itu terlihat begitu penasaran. HItungan detik berikutnya Gaeul kembali memalingkan wajahnya, memandangi deburan ombak pantai.

“Annie.. Ini pertama kalinya kita bermain di pantai. Di Seoul, biasanya kau hanya membawaku ke sebuah kafe atau pun taman.”

“Tempat-tempat membosankan seperti itu?” ucap Donghae tak percaya.

“Membosankan?” ulang Gaeul diiringi dengan gelak tawanya yang tak tertahankan. Seolah sangat mustahil mendengar seorang Lee Donghae mengatakan bahwa taman adalah tempat yang membosankan. “Astaga, kau tau oppa? Pantai memang menjadi urutan pertama untuk tempat-tempat yang kau sukai. Dan apa kau tau, untuk ukuran pria romantis dan picisan sepertimu, kau selalu menggunakan taman sebagai tempat alternatif favoritmu untuk berkencan. “

“Ahhhh Jinchayo??”

“Hmmm,” jawab Gaeul dengan gumaman pelan.

Tiba-tiba saja Donghae menghentikan langkahnya, membuat tubuhnya berada satu langkah di belakang tubuh Gaeul, dan genggaman eratnya yang seolah menahan langkah Gaeul membuat gadis itu ikut terhenti. Gaeul menolehkan kepalanya dan menatap pria itu ingin tahu.

“Bagaimana.. bagaimana kita bisa menikah?”

Pertanyaan telak bagi Gaeul. Sejenak gadis itu terdiam, membuat waktu seakan terhenti dan dunia berhenti berputar. Satu-satunya yang bisa dirasakannya saat ini adalah tangan yang menggenggam pergelangannya dengan erat.

“Karena aku mencintaimu…”

“De??” timpal Donghae mendengar suara datar itu.

Gaeul menyunggingkan senyumnya dan menatap Donghae intens. Tatapan yang tak dimengerti oleh Donghae, tapi cukup menghangatkan hatinya. Untuk satu kalimat itu, pria itu begitu yakin gadis yang berdiri di hadapannya ini mencintainya. Bahkan sangat yakin ada cinta yang sangat besar untuk dirinya. Tak bisa mengabaikan itu semua yang terpancar dari bola mata indahnya.

“Jika aku tidak mencintaimu maka aku tidak akan pernah menginginkanmu lebih dari apa pun di dunia ini. Dan karena aku mencintai Lee Donghae, maka kau menjadi satu-satunya orang yang kuinginkan menjadi suamiku.”

*****

Donghae’s POV

Aku menghentikan kegiatan mengeringkan rambutku saat melihat sosok seseorang yang tertidur di sofa panjang yang berada di depan telivisi. Kututup perlahan pintu kamarku dan berjalan menghampirinya. Kusampirkan handuk kecil yang kugunakan untuk mengeringkan rambutku pada sandaran kursi kemudian menundukkan tubuhku sedikit untuk memandang wajahnya.

Wajah ini, membuat jantungku sedikit aneh hari ini.

Kuulurkan tanganku, meraih tubuhnya ke dalam gendonganku, membuat aroma tubuhnya seakan melekat di indera penciumanku. Kubawa tubuh mungil itu menuju kamarnya, kemudian membaringkannya dengan perlahan di atas ranjang berwarna hijau kesukaannya ini. Untuk beberapa saat aku tetap duduk di tepi ranjangnya, memandnagi wajah polosnya. Dan disaat yang bersamaan ada keinginan yang mendesak dari tanganku untuk menyentuh wajahnya, seolah kebutuhan yang tak terelakkan untuk merasakan kulit lembut dan mulus itu. Tanpa bisa kutahan, tanganku sudah bergerak dengan sendirinya, menyibakkan poni yang menutupi dahinya. Merasa ada getaran yang luar biasa saat tanganku benar-benar menyentuh kulit wajahnya. Dengan cepat kutarik tangganku, menahan tindakan liar lainnya yang bisa saja kulakukan saat ini. Aku menggelengkan kepalaku pelan, dan menyingkir dari sisinya, berniat keluar dari kamarnya sesegera mungkin. Tapi sebuah benda kecil yang tergeletak di atas mejanya menarik perhatianku. Sejenak kupandangi benda itu dalam kebisuanku dan tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di otakku. Entah setan apa, tanganku dengan kurang ajarnya menyentuh benda yang menyimpan privasinya itu. Mencari sebuah nama yang tersimpan di dalam ponselnya itu. Tanpa basa-basi aku langsung mengeluarkan suaraku saat sebuah suara menyapaku di ujung sana.

“Hyukjae~ssi, aku Lee Donghae. Bisakah kau membantuku?

*****

“Oppa, kenapa kau berada di sini?”

Matanya yang membulat menunjukkan keterkejutannya saat melihat sosok diriku yang tiba-tiba berada di tempat bekerjanya. Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman dan sedikit mengedikkan kepalaku kepada pria yang kuyakini bernama Hyukjae, yang berdiri di belakangnya.

“Oppa, kau terlihat sangat mencurigakan,” ucapnya lagi.

“Hari ini aku adalah klienmu. Jadi bersikap baiklah padaku, Gaeul~a. Dan terima kasih kau sudah mau membantuku, Hyukjae~ssi.”

“Membantu? Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?”

“Tidak perlu banyak bicara, Gaeul~a. lakukan saja tugasmu sekarang,” sambar Hyukjae dan lagi-lagi membuat istriku terlihat bingung.

“Tugas?”

“Onnie..”

“Hyeobin??” teriak Gaeul shock. Merasa pusing dengan pertanyaan yanga da di otaknya namun tak juga terjawab, membuat gadis itu berdecak marah. Kepalanya bergerak pelan menatapku, Hyukjae dan gadis yang dipanggilnya Hyeobin itu secara bergantian. “Hyeobin.. errr Oppa, bukankah kau bilang kekasihmu itu masih berada di China? Dan aigoo Donghae oppa, sebenarnya ada apa ini?”

“Aku sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu onnie. Dan aku sangat bersemangat melakukan pekerjaanku hari ini.”

“Pekerjaan?”

“Sudahlah jangan banyak protes, onnie~ya.”

“O-Oppa,” jerit Gaeul sedikit tertahan ketika gadis itu mulai menarik tangannya paksa memasuki sebuah ruangan. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku ke arahnya. Setelah itu aku kembali menatap Hyukjae yang berdiri sembari melipat tangannya di depan dada, masih terkekeh geli menatap pintu yang sudah tertutup rapat saat ini karena bantingan pelan dari gadis yang bernama Hyeobin itu.

“Hyukjae~ssi, sekali lagi terima kasih.”

“Sudahlah. Meskipun baru mengenal istrimu selama empat bulan terakhir ini, aku tahu dia wanita yang baik. Dia sudah banyak membantuku, jadi tidak ada salahnya jika aku melakukan hal ini untuk kalian.”

*****

Aku masih berkonsentrasi merapikan jas putih yang baru saja kukenakan saat suara decitan pintu yang terbuka itu mengalun di telingaku. Samar-samar kudengar suara perdebatan dari balik pintu itu, hingga akhirnya mataku melebar sempurna saat seorang gadis muncul dari balik pintu itu. Gaun putih yang menampakkan bahu indahnya dan menutupi kakinya terlihat begitu pas di tubuh mungil itu. Polesan warna-warna tipis yang menghiasi wajah itu, membuatnya terlihat semakin bercahaya. Rambutnya yang semula lurus berubah menjadi ikal dan ditata begitu indah dengan sebuah jepit yang cukup besar menghiasi rambutnya. Membuatku bahkan lupa bagaimana caranya untuk bernapas. Lupa bagaimana caranya mengisi rongga dadaku dengan udara yang bernama oksigen. Cantik.. Aku seolah tak pernah melihat gadis lain di dalam hidupku, sehingga tak memiliki pembanding untuk kecantikkannya. Dalam keadaan tak mengenal diriku sendiri dan dirinya, aku tetap tak bisa menolak mengagumi wajah itu. Apa di masa laluku, aku begitu tergila-gila pada gadis ini? Apa aku benar-benar bertekuk lutut pada cintanya? Tak bisa mengabaikan pesona yang begitu membutakan? Usaha apa yang dulu aku lakukan hingga gadis itu bersedia menikah denganku? Aku bahkan tak bisa mengedipkan mataku.

Aku menelan ludahku, saat malu-malu matanya menatap mataku. Gerak tubuhnya terlihat sangat canggung, bahkan tangannya tak lepas dari tengkuknya. Berkali-kali kepala itu menoleh kea rah Hyeobin yang tersenyum di sampingnya. Tiba-tiba saja tubuhnya berbalik dan berniat kembali masuk ke dalam ruangan yang di tempatinya tadi, tapi dengan cepat pula Hyeobin mencekal tangannya.

“Ayolah, onnie. Jangan membuat usahaku sia-sia. Aku sudah berusaha merayu onnieku untuk meminjami gaun pengantin ini, dan aku juga menghabiskan waktuku untuk memoles wajahmu,” dengus Hyeobin.

Sejenak kepala itu kembali menoleh ke arahku, sebelum kembali menatap Hyeobin. “Tapi aku merasa aneh, Hyeobin~a.”

“Astaga, berhentilah berpikir seperti itu onnie~ya. Kau terlihat sangat cantik saat ini. Hanya pria bodoh dan buta yang tidak mau mengakui kecantikanmu saat ini, benarkan Donghae oppa?”

“De?” sambarku shock.

Aku langsung menundukkan wajahku saat gadis itu meneriakkan namaku cukup keras. Sadar bahwa sejak tadi mataku tak lepas dari wajahnya. Aku memalingkan wajahku, berusaha mengatur detak jantungku yang tiba-tiba bekerja sangat berat.

“Aissss sudahlah, bukankah kalian sudah hampir satu tahun menikah, kenapa masih bersikap bodoh seperti ini?” sergah Hyukjae sembari mendorong tubuhku dan disaat bersamaan Hyeobin menarik tangan Gaeul, berjalan mendekatiku.

Sesak.. rasanya benar-benar kehilangan oksigen saat tubuhnya berdiri di sampingku. Wajah it u terus tertunduk sedangkan diriku tak memiliki keberanian untuk menyentuh dagunya dan membuat wajah itu terangkat menatapku.

Cahaya bagaikan kilat yang bersumber dari kamera Hyukjae membuatku tersadar dan di saat bersamaan Hyukjae mengerang kesal dengan berkacak pinggang.

“Yak!!! Kalian ingin membuat foto pernikahan atau foto sepasang remaja yang baru mengenal yang namanya cinta?? Cih sungguh memuakkan melihat sifat malu-malu kalian!!” dengusnya.

Aku berdehem pelan dan menatap wajah yang masih tertunduk menatap jari-jarinya yang tergenggam itu sejenak. Dan sedetik kemudian tanganku terulur begitu saja, melingkar di pinggang rampingnya, menarik tubuh itu mendekat dan sontak membuat tangannya yang semula tergenggam menempel di dadaku seiring dengan kepalanya mendongak shock. Membuatku bisa melihat wajah yang sempurna itu dari jarak yang begitu dekat dengan wajahku, membuatku benar-benar mengutuk diriku karena melupakan gadis ini. Dan satu yang kutahu, mata itu bukan hanya sekedar indah, tapi membunuh keinginanku untuk melihat mata orang lain selain mata itu. Disaat bersamaan, aku bisa merasakan cahaya itu kembali menyerangku dan dirinya.

*****

Aku menyampirkan jaket yang kukenakan tadi di punggung sofa yang didudukinya. Kemudian duduk di sampingnya. Setelah memasuki rumah dia langsung duduk di depan televisi dan berkali-kali memencet remote itu tanpa tujuan yang jelas film apa yang ingin ditontonnya. Aku tau suasana ini begitu canggung. Bahkan tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirku atau pun bibirnya sejak pemotretan tadi.

“Errrr aku.. aku merasa meskipun kita hanya menikah dengan membubuhkan tanda tangan di atas selembar surat pernikahan dan ternyata surat nikah itu pun juga sudah dirobek ibuku, foto pernikahan pasti juga.. juga diinginkan oleh gadis mana pun,” ucapku gugup.

“Ah, de. Go.. gomawo,” desisnya tak kalah kaku

Hening.. lagi-lagi rumah ini terasa begitu sepi. Aku berdehem pelan, seolah-olah  hal kecil itu bisa membuat rumah ini terasa sedikit hidup.

“Tadi.. kau.. kau terlihat sangat cantik saat memakai gaun pengantin itu.”

Kepala itu terangkat. Bibirku ikut tersenyum saat seulas senyum manis tersungging di bibir mungilnya. Entah tiba-tiba saja dorongan besar tak terelakkan itu menekan tubuhku. Terdiam dalam tatapan yang saling tertuju pada manik mata. Memaksa wajahku untuk semakin mendekat dan begitu ingin menikmati bibir yang merekah itu. Secara perlahan tubuhku semakin mendekat, sedangkan tubuhnya tak bergeming sama sekali. Hembusan napasnya yang mulai terasa di wajahku seakan menarik tubuhku lebih mendekat. Membuat hasratku menggila sejadi-jadinya. Dan benar saja, aku tak bisa menahan diriku lagi. Dengan nekatnya bibirku menyentuh bibirnya. Menahan napas saat merasakan bibirnya yang sedikit bergetar. Tapi sedetik kemudian bibirku tak bisa hanya berdiam diri. Perlahan bibirku mengecup pelan bibirnya, hingga berubah menjadi lumatan lembut. Tak ada penolakan dan aku juga tak bisa menghentikannya. Aku bisa merasakan Tangannya yang menempel di dadaku yang seolah berusaha memberi sekat antara tubuhku dan dirinya tiba-tiba dalam sekejap mengejang saat lidahku menerobos masuk ke dalam mulutnya. Membuat tubuh itu melemas hingga akhirnya terbaring di atas sofa dengan tubuhku yang berada di atas tubuhnya. Mengeksplor apa pun yang ada di dalamnya dan menggila saat tangannya bergerak naik menyentuh leherku. Sadar akan sisa oksigen yang ada di rongga dadaku dan tubuhnya yang mulai melemas parah karena kehabisan oksigen, kuubah lumatanku menjadi sebuah kecupan-kecupan ringan hingga akhirnya bibirku benar-benar menjauh dari bibirnya. Kubuka mataku dan disaat itu pula aku sadar. Tidak.. Tidak sulit.. Tidak sesulit yang kubayangkan.. Tidak sulit untuk kembali mencintai wanitaku.

*****

3 days later…

“Bagaimana? Di sini cukup bagus kan?” ucapku langsung ketika melihat dirinya yang baru saja keluar dari kamarnya. Berdiri mematung di depan pintu kamarnya saat mendapati diriku yang tengah sibuk memilih tempat yang bagus untuk memajang foto pernikahan kami.

“Kau.. kapan Hyukjae oppa mengantarkan foto itu?” tanyanya bingung.

Aku hanya terkekeh pelan dan menepuk-nepuk tanganku ketika foto itu berhasil kupajang dengan sempurna.

“Hyukjae kemari saat kau masih tidur. Mengantarkan foto-foto ini,” ucapku tanpa menoleh ke arahnya. Kemudian mengambil selembar foto kecil yang ada di atas meja dan setelah itu menyelipkannya di dompetku.

“Ternyata foto-foto ini terlihat sangat jauh dari kata buruk,” desahku pelan sembari meletakkan kedua tanganku di belakang leher dan menatap puas foto yang terpajang di hadapanku.

*****

Author’s POV

Gaeul menghentak-hentakkan jarinya pelan di atas meja, merasa sudah cukup bosan menunggu seseorang memintanya datang ke restoran yag cukup sepi ini. Berkali-kali matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan itu justru membuatnya semakin bosan. Tangannya dengan cekatan menarik ponselnya dan menekan sederet angka yang begitu dihapalnya.

“Maaf aku terlambat,” ucap suara itu terengah dan Gaeul langsung menutup flip ponselnya saat melihat pria yang ditunggunya sudah berdiri di hadapannya.

Kesal tapi rasa amarah itu hilang seketika saat mendengar napas yang begitu berat dari pria yang sangat dicintainya. Ikut merasakan sesak. Refleks tangannya langsung menyodorkan gelas minumannya dan pria itu menyesapnya dengan cepat.

“Astaga, oppa. Memangnya kau melakukan apa, hingga kehausan seperti ini?”

“Bis itu sangat sesak dan panas.”

Kekehan kecil meluncur begitu saja dari bibri Gaeul, membuat Donghae mengernyit bingung.

“Aigoo~ Sebelumnya kau tak pernah naik bis, oppa. Wajar saja jika kau merasa seperti itu. Lagi pula kenapa kau tidak naik taksi saja?”

“Hanya ingin mencoba,” jawabnya enteng.

“Baiklah, terserah kau saja. Lalu kenapa oppa mengajakku kemari?”

Donghae menggeleng pelan sembari tersenyum kaku. Tangannya bergerak begitu saja, menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Aku.. hanya ingin menghabiskan waktu di luar rumah. Bukankah kau pernah bilang, saat di seoul aku lebih sering membawamu ke kafe dan taman. Sayangnya aku belum menemukan taman yang bagus di sini. Jadi, bagaimana kalau kita mulai kencan kita di restoran ini saja?”

Mata Gaeul mengerjap pelan, shock dengan ucapan yang baru saja di dengarnya. Pria itu.. pria yang begitu diinginkannya di dunia ini, baru saja mengajaknya berkencan. Baru saja mengucapkan kata-kata yang begitu diharapkan gadis itu selama ini. Berharap pria itu mulai belajar untuk menatapnya sebagai seorang wanita. Apakah ini tanda pria itu mulai mencintainya? Memberikan secercah harapan yang begitu diimpikannya selama ini.

“Aku tahu ini sedikit aneh. Tidak ada pria mana pun yang mulai mengencani wanitanya setelah menikah. Tapi mengingat kondisiku, kuharap kau bisa bersabar untuk memulainya dari awal bersamaku.”

*****

“Aku ke toilet sebentar, Oppa,” desis Gaeul setelah membersihkan sudut bibirnya dari remah-remah makanan yang disantapnya tadi dan dijawab dengan anggukkan pelan oleh Donghae.

Donghae hanya mengedarkan kepalanya ke seluruh penjuru restoran ini, kemudian terdiam memandangi orang yang berlalu lalang di luar sana dari jendela restoran. Sesekali bibirnya menyentuh sedotan yang ada di gelasnya, menyesap minumannya. Beberapa menit kemudian, dirinya mulai merasa gelisah saat menyadari istrinya tak kunjung juga kembali. Sebenarnya bukan hanya hal itu yang membuat hatinya sedikit tak tenang, tapi seperti ada sesuatu yang tengah menunggunya.

Merasa bosan menunggu sendirian, akhirnya pria itu memutuskan untuk ke toilet juga. Mendorong kursinya ke belakang dan berdiri di tempatnya. Sialnya saat tubuhnya berbalik tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis yang berada di belakangnya, gadis yang tengah berjalan menuju meja yang sudah di pesannya semula.

Sadar akan kesalahannya, Donghae langsung membungkukkan tubuhnya, meminta maaf atas kecerobohannya. Tapi tak ada respon apa pun dari gadis yang berdiri di hadapannya. Kaki itu tetap berdiri mematung di tempatnya, tak bergeming sama sekali. Detik berikutnya Donghae mengangkat kepalanya, dan menatap wajah gadis itu. Tapi disaat yang bersamaan, dahinya langsung berkerut mendapati tatapan shock gadis itu ketika melihat wajahnya. Mata itu berair, dan menatapnya sangat lekat, membuat tubuhnya bergidik. Heran dengan respon yang didapatinya dari gadis yang tak dikenalnya itu. Tatapan itu.. seolah tengah meyakinkan dirinya sendiri atas apa yang dilihatnya saat ini. Menatap pria itu seolah sang pria bukanlah seorang manusia.

“Ma-maaf. Aku tidak sengaja,” ulang Donghae. Berusaha menyadarkan gadis itu dari keterpakuannya.

“O-oppa,” desis gadis itu pelan, seakan tak percaya dengan sosok tubuh yang dilihatnya saat ini. “D-donghae oppa….”

Donghae hanya terdiam mendengar nada yang begitu pelan dan bergetar itu, seolah gadis itu membutuhkan usaha yang sangat besar hingga pita suaranya kembali berfungsi. Donghae mengalihkan tatapannya dari wajah itu, berusaha menjernihkan otaknya untuk berpikir sejenak. Sosok tubuh ini.. Tubuh yang sempurna dengan fisiknya yang tinggi, layaknya seorang model. rambut lurusnya jatuh begitu saja di punggungnya, seakan tak asing baginya, tapi wajah yang polos tanpa poni yang menutupi dahinya itu begitu tak dikenal oleh mata dan memorinya.

“K-kau mengenalku?” akhirnya satu kalimat itu yang meluncur dari bibir Donghae, tapi sayangnya gadis itu tak menjawab apa pun, hanya air mata yang semula menumpuk di pelupuk matanya secara perlahan menetes di pipi putihnya. “Maaf, beberapa waktu yang lalu aku mengalami kecelakaan dan membuatku tak bisa mengingat masa laluku.”

Reaksi tubuh gadis itu yang tak terduga membuat tubuh Donghae mengejang dengan seketika. Dengan lancangnya gadis itu mengulurkan kedua tangannya, dan meraih wajah Donghae. Menatap pria itu dengan intens.

“Aku tau.. Aku tau kau masih hidup. Aku tau tubuh itu bukan milikmu. Aku sudah mengatakannya pada ahjumma, tapi mereka tidak ada yang berani berharap. Kau masih hidup, oppa. Donghae-ku masih hidup.”

Donghae semakin tercekat mendengar ucapan gadis itu. Mulai merasa tak nyaman mendapati reaksi yang aneh dari gadis yang tak dikenalnya. Merasa risih saat ada tangan lain yang menyentuh wajahnya. Dengan cepat Donghae menarik tangan itu dan menjauhkan wajahnya. Tapi gadis itu justru menyentuh dada dan bahunya, seolah berusaha memeriksa apa pria di hadapannya itu masih dalam keadaan yang pernah dilihatnya dulu. Sempurna dengan fisiknya.

“Maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya dan siapa dirimu?” ucapnya dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya, berusaha menghentikan kegilaan gadis itu yang seolah sudah kehilangan pengendaliannya. Dan berhasil, dalam sekejap aktivitas gadis itu terhenti dan berganti dengan tatapan shocknya. Matanya melebar sempurna. Isakan tangisnya yang semula terdengar samar-samar, hilang bahkan tak berbekas.

“Aku?” lirihnya. Dengan sigap tangan gadis itu kembali meraih tangan Donghae, menggenggamnya erat. “Aku Eunhye, oppa. Aku tunanganmu.”

Sontak Donghae langsung menepis tangan itu dan tertawa kaku. Mustahil.. hanya itu yang ada di otaknya ketika mendengar kalimat itu. Seperti lelucon yang bahkan tak lucu sama sekali.

“Baiklah, aku memang tidak bisa mengingat masa laluku, tapi bukan berarti kau bisa membohongiku seperti ini. Jangan bercanda. Bagaimana mungkin pria yang sudah beristri memiliki hubungan pertunangan dengan gadis lain? Ini benar-benar tidak lucu.”

“Istri??”

Napas Donghae sedikit tercekat saat melihat perubahan ekspresi gadis yang berdiri di hadapannya. Wajah itu langsung memucat, dan matanya melotot lebar, seolah apa yang baru di dengarnya adalah vonis kematian.

“Oppa,” panggilan lembut itu membuat Donghae mengalihkan tatapannya pada wanita yang berdiri di belakang gadis yang tak dikenalnya. Tersenyum simpul pada wanita itu kemudian mengulurkan tangannya.

“Dia istriku.”

*****

“Dia istriku.”

Satu kalimat dari Donghae itu membuat Gaeul langsung mengerutkan dahinya, merasa penasaran kenapa tiba-tiba lelaki itu mengenalkannya pada orang lain, sementara dia tahu pasti bahwa tak ada yang dikenal pria itu saat ini, selain dirinya dan Hyukjae oppa beberapa waktu yang lalu.

Tapi pertanyaan itu seolah angin kosong di otaknya saat tubuh yang memunggunginya itu berbalik, membuatnya bisa melihat jelas wajah basah dan pucat itu dengan mata kepalanya sendiri. Merasa nyawanya dicabut seketika ketika bibir merah itu bergetar pelan, menatapnya dengan sorotan tak percaya.

Akhirnya.. Inikah akhir hidup baru yang dicoba diciptakannya beberapa bulan ini?

“Ga-Gaeul? Cho Gaeul?” ucap gadis itu penuh penekanan. Merasa ledakan yang luar biasa di dadanya yang akan segera keluar. Dengan seketika napasnya memburu, sedangkan jantungnya bekerja lebih berat daripada biasanya. Merasa seperti dipermainkan dunia saat ini.

“Kau juga mengenal istriku?”

Seringaian itu tersungging sempurna di bibirnya, membuat jantung siapa saja seakan terlepas dari rongga dadanya.

“Istri?” desis gadis itu pelan tanpa melihat wajah Donghae yang mulai bingung sekarang. “Skenario apa yang sedang kau tulis di dalam hidup tunanganku, Cho Gaeul!!!”

Jerit tertahan itu tak bisa dipungkiri membuat tubuh Gaeul melemas dengan seketika. Mulai sadar oksigennya semakin menipis dan oksigen itu sebentar lagi memang tak tersedia untuk dirinya. Sadar oksigen itu akan diambil paksa dari hidupnya. Oksigen yang sudah menunjang hidupnya selama ini. Pria itu.. Pria itu entah sampai kapan akan terus menjadi alasan dirinya untuk terus menghirup napas selama ini.

“Kebohongan apa yang sudah kau berikan kepadanya?”

Setiap kalimat yang keluar dari bibir itu seakan menghimpit dada Gaeul, mengintimidasinya, membuatnya merasa begitu sesak.

“Tunggu dulu. Sebenarnya apa yang sedang kau katakan? Kebohongan? Kebohongan apa?” desak Donghae yang mulai merasa tak tahan dengan ucapan yang terasa begitu ambigu baginya. Tak dimengerti olehnya sama sekali. Merasa pusing melihat gadis itu terus saja menekan istrinya dengan ucapan-ucapan tajam, sedangkan istrinya tetap tak bergeming. Membatu ditempatnya.

Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah donghae, sedangkan tangannya menunjuk wajah Gaeul dengan amarah yang meledak. Wajah yang semula terlihat pucat berubah menjadi mengerikan, merah padam karena ledakan di dalam rongga dadanya.

“Gadis itu.. Gadis itu sudah membohongimu, oppa. Dia bukan istrimu. Cho Gaeul hanyalah sahabatmu. Aku-lah tunanganmu!!”

Donghae menyentuh kepalanya dengan cepat. Merasa denyutan itu semakin menyiksa kepalanya. Detik berikutnya kakinya melangkah dengan sesegera mungkin menghampiri wanita yang masih tetap mematung di hadapannya, memandangi ujung sepatunya dengan kedua tangannya yang terkepal di depan dada.

“Gaeul~a, katakan kau tak mengenal gadis ini. Kau tak mungkin membohongiku. Katakan kau tidak berbohong dan gadis ini-lah yang sudah berbohong,” tuntutnya dengan suara serak. Matanya menatap tajam wajah yang tetap tertunduk itu. Mulai merasakan detak jantungnya yang tidak teratur sedangkan dadanya begitu sulit menyimpan oksigen ketika melihat gadis itu masih tak bergeming.

“Oppa, dia sudah membohongimu dan aku tunanganmu!”

“JAWAB AKU LEE GAEUL!!!!” teriakan itu menggema di ruangan ini seiring dengan tubuh Gaeul yang ikut tersentak karena hentakan kasar pria itu di lengannya, berusaha membuat gadis itu memandang wajahnya. Pria itu tak peduli dengan protes gadis yang mengaku sebagai tunangannya, gadis yang berusaha menginterupsinya, mengabaikan beberapa kepala yang sontak langsung menoleh ke arah mereka.

Secara perlahan kepala itu mendongak, dan diwaktu yang sama Donghae bisa melihat mata itu sembab. Bibir mungil yang pernah dikecupnya bergetar pelan, sedangkan tatapan hangat yang biasa ditunjukkannya berubah menjadi tatapan kosong dan tak mampu memandang wajahnya.

“Aku.. Aku..”

Gadis itu benar-benar tak sanggup mengucapkan apa-apa lagi. Bahkan dia sudah merasa tak memiliki pita suara. Sadar dengan ketakutannya, membuat Donghae menggigit bibirnya bawahnya. Merasa takut untuk mempercayai bahwa gadis ini benar-benar telah membohonginya. Merasa semua ini hanya mimpi, tapi begitu pedih ketika menyadari gadis itu tetap diam, tak memberikan pembelaan sedikitpun untuk dirinya.

Kecewa… kecewa saat menyadari gadis yang selama ini dianggapnya sebagai istri  membenarkan semua ucapan gadis asing itu di dalam semua kebisuannya. Merasa bahwa organ vitalnya saat ini tidak bekerja lagi. Sontak tangannya yang semula mencengkeram lengan Gaeul terlepas begitu saja, merasa kakinya tak sanggup untuk menyanggah tubuhnya lagi. Menyakitkan baginya untuk menerima kenyataan bahwa gadis yang mulai dicintainya membuat drama yang begitu menyedihkan untuk hidupnya.

*****

Gaeul’s POV

Semuanya berakhir. Kebohonganku terbongkar sudah. Kesalahan terbesarku terkuak begitu saja dan siap menyemplungkan diriku ke dalam panasnya api neraka. Aku sadar hari ini akan tiba, hari dimana nyawaku akan dicabut paksa. Nyawa yang selama ini bertahan di dalam ragaku karena pria yang menatapku nanar saat ini.

Tatapan itu.. Tatapan itu begitu menyakitkan bagiku. Air mataku mendesak keluar saat kaki itu melangkah dan melewatiku begitu saja.

“Oppa,” desisku pelan.

Air mata itu benar-benar menetes. Begitu pedih melihat punggung itu terus menjauh dari jarak pandangku. Dengan kasar kusapu air mataku dan siap berbalik mengejarnya, tapi suara itu.. Suara itu menghentikan langkahku.

“Kau… Kau tidak pernah bisa merebut sesuatu yang bukan menjadi milikmu, Cho Gaeul. Sampai kapan pun Lee Donghae akan menjadi milikku. Sampai kapan pun!!”

Kenyataan memang selalu menyakitkan.

*****

Dengan gontai kulangkahkan kakiku memasuki rumah. Mataku terus tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat. Dengan pelan kulangkahkan kakiku mendekat, menarik kenop pintu itu. Sayangnya ruang itu memang terkunci rapat untuk diriku, sama seperti hatinya yang memang selalu tertutup untuk diriku, untuk seorang Cho Gaeul.

Sakit.. dan semakin sakit saat mataku mendapati sebuah foto pernikahan yang terpajang di hadapanku saat ini. Dadaku terasa begitu sesak, sedangkan air mataku mengucur begitu saja membasahi pipiku. Aku baru bisa merasakan kebahagian yang tak terbayangkan dan semua itu berakhir hanya dalam hitungan hari.

Tubuhku lunglai seakan tak memiliki tenaga sama sekali, membuat tubuhku yang semula bersandar pada pintu kamarnya merosot begitu saja ke lantai. Aku benar-benar merasa hampir mati menyadari rasa sakit yang tak tertahankan.

“Oppa, maafkan aku..”

*****

Aku langsung membuka mataku ketika merasakan pintu yang sejak semalam kusandari berdecit terbuka. Sedikit terdiam memandangi kaki yang berdiri di sampingku saat ini. Dengan cepat aku berdiri dan memandang wajah dingin itu yang seolah malas menatapku.

Rasa sakit itu datang lagi saat tubuhnya berjalan melewatiku begitu saja, seolah mengabaikan diriku, tak melihat diriku sama sekali.

“Oppa,” panggilku sedikit keras dan langsung menarik tangannya, membuat tubuhnya berbalik menghadap ke arahku. Memandangi tangannya yang berada di genggamanku sejenak kemudian detik berikutnya melepaskan genggamanku dengan begitu mudahnya.

Kugigit bibir bawahku untuk menahan isak tangis yang rasanya begitu mendesak keluar dari bibirku.

“Mianhae,” ucapku lirih. Tetunduk lemah seakan leherku tak memiliki tulang untuk tetap tegak dan memandang wajahnya. Wajah dingin itu seakan mencabik jiwaku. “Aku mohon dengarkan aku, oppa. Aku tidak bermaksud membohongimu.. aku hanya..”

“Hanya mempermainkanku?” sambarnya cepat dan sontak membuat kepalaku terangkat, menatap shock mata yang berkilat itu. “Selama ini kau satu-satunya orang yang selalu kudengar. Aku selalu mempercayaimu tapi dengan teganya kau membodohiku. Apa aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh hingga kau melakukan semua ini kepadaku? Bagaimana bisa aku mempercayai sebuah pernikahan yang bahkan tak memiliki surat pernikahan dan tak mengucapkan sumpah di depan Tuhan. Kau benar-benar membuat kekonyolan besar di dalam hidupku. Bahkan kau memisahkanku dari keluargaku!!”

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Semua tuduhannya tidak benar. Aku tidak pernah bermaksud melukainya seperti itu.

“Oppa, aku mohon. Aku tidak..”

Tapi suara ketukan dari pintu rumahku menyela ucapanku. Sejenak mata itu tertuju ke arahku tapi detik berikutnya langsung berjalan menuju pintu rumah. Kutangkupkan tanganku di depan wajahku, berusaha meredam isak tangis yang mulai menekan dadaku, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa di tenggorokanku.

“Kau sudah siap, Oppa?”

Sontak suara itu membuat napasku tercekat. Tanpa perintah kakiku berlari begitu saja menuju pintu rumah dan seakan mati rasa saat melihat seorang wanita yang berdiri  di depan pintu rumahku. Song Eunhye?

Mata gadis itu menatapku sejenak dan kembali memandang wajah Donghae oppa sarat dengan makna.

“Kita harus pergi sekarang dan aku akan menunggumu di dalam mobil.”

*****

“Oppa, kau mau kemana?”

Pertanyaan itu meluncur panik di bibirku saat tubuhnya berbalik masuk ke dalam kamar, kemudian menyambar ransel yang sudah berada di atas ranjangnya, menyampirkan ransel itu di punggungnya.

“Aku harus pergi,” ucapnya datar.

Tanganku langsung bergerak cepat mencengkeram lengannya saat kaki itu mulai menuruni beberapa anak tangga yang berada di teras rumahku. Kepalaku menggeleng pelan, sedangkan desahan napasku bahkan tak terasa lagi.

“Andwae.. Kau tidak boleh pergi. Aku mohon.. Aku..”

“Aku masih memiliki keluarga Gaeul~ssi,” sambarnya membuatku terperangah mendengar sapaan formal itu mengalun di telingaku. Lidah itu begitu fasih mengucapkannya. “Tidak ada seorang wanita dan pria yang tinggal di dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Dan bukankah seharusnya aku memang berada di sisi keluarga dan… tunanganku?”

Tanpa sadar cengkeramanku di lengannya mengendur begitu saja hingga terlepas dari genggamanku, seolah energi di dalam tubuhku sudah menghilang sejak dulu, saat aku sadar pria ini memang tidak pernah berniat untuk menatapku.

“Aku akan mengganti semua uang yang sudah kau buang percuma untuk pengobatanku dan kau bisa membeli kembali rumah keluargamu yang berada di Seoul dengan uang itu.”

Percuma? Satu kata itu berhasil membuat tubuhku tak menapak bumi lagi.  Bahkan roh ku pun terasa keluar dari dalam tubuhku. Kata itu seolah menunjukkan, apa pun yang kulakukan untuknya sama sekali tak berarti.

*****

 

Donghae’s POV

Dadaku berdenyut hebat saat kalimat itu meluncur sempurna dari bibirku. Tatapannya yang kosong tiba-tiba berubah menjadi sumber mata air yang terus meleleh di pipinya, membentuk sungai kecil di sana.

Menyakitkan.. Disaat aku mulai menatapnya kenapa kenyataan ini yang kuterima? Kenapa hubungan ini terjalin karena sebuah kebohongan?

Kupalingkan wajahku segera, sebelum rasa sesak di rongga dadaku karena melihat wajah tanpa ekspresi itu meledak dengan seketika. Kulangkahkan kakiku menuju sebuah  mobil yang terparkir di depan rumah kecil yang sudah kutempati selama empat bulan ini. Membuka pintu mobil itu dan duduk di dalamnya tanpa menolehkan kepalaku sama sekali ke arahnya.

Mataku berkedut-kedut, panas saat mobil ini mulai bergerak pelan menjauhi rumah kecil itu, meninggalkan rasa pedih yang luar biasa di dadaku saat mataku menatap sosok tubuhnya yang tertangkap oleh pantulan kaca spion mobil, tubuh yang masih diam terpaku di tempatnya semula. Dan sontak aku langsung menggigit bibir bawahku saat tubuh itu lunglai dan terduduk begitu saja di atas lantai dengan raut wajah datar, tanpa ekspresi.

Maafkan aku…

*****

 

2 days latter

Aku melipat tanganku di depan dada, dan mendesah pelan. Seolah apa yang kulakukan bisa sedikit membuatku merasa lebih baik. Rumah ini begitu besar.. sangat besar tapi anehnya tak ada satu tempat pun dari bagian rumah ini yang bisa membuatku merasa nyaman, senyaman rumah kecil itu. Astaga apa yang sedang aku pikirkan? Seharusnya aku membuang jauh-jauh pikiran itu. Di sini.. di sini-lah tempatku berada. Ini adalah hidupku. Di sini aku menjalani hidupku, bukan di sebuah rumah kecil yang berada di pinggiran kota Meokpo.

Lagi-lagi aku mendesah pelan, kemudian menyandarkan punggungku pada punggung kursi besi yang berada di taman belakang rumah mewah ini. Rumah yang menjadi tempat tinggal keluargaku. Rumah dimana seorang wanita tua yang harusnya kupanggil ibu menghabiskan hari-harinya. Ibu? Bahkan aku merasa sangat asing dengan sapaan itu. Asing dengan semua tatapan yang diberikan wanita tua itu atau pun gadis yang mengaku sebagai tunanganku. Karena nyatanya selama lima bulan ini aku hanya mengenal satu tatapan hangat.

Tidak.. itu bukan tatapan hangat. Itu hanyalah tatapan mencibir karena kebodohanku. Aku yang begitu mudah untuk dibohonginya. Gadis itu mungkin sedang tertawa bahagia saat ini karena lelucon konyol yang dimainkannya. Gadis itu mungkin merasa puas telah berhasil mempermainkan hidupku.

“Oppa,” sapaan lembut seiring dengan tangan yang melingkar di leherku membuat tubuhku bergidik pelan, tersadar dari lamunan bodohku saat dagunya menempel di pundakku.

“Eunhye~ya,” balasku kaku dan kembali memalingkan wajahku, menatap lurus ke depan, tak tau apa yang sebenarnya menjadi objek padanganku.

“Hmmm,” gumamnya. “Tadi aku mencarimu di kamar dan ahjumma mengatakan kau berada di sini? Waeyo? Apa kau merasa sulit untuk beradaptasi di rumahmu sendiri?”

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Bukan sulit, hanya saja… terasa begitu aneh.”

Lingkaran tangannya di leherku mengendur dan detik berikutnya tubuhnya yang semula berada di belakangku sudah berpindah posisi duduk di sampingku, meraih tanganku dan menggenggamnya erat dengan tetap menyunggingkan senyumnya untukku.

“Aku tahu. Saat ini mungkin kau sulit untuk mempercayainya. Semuanya terasa bagaikan lelucon bagimu. Aku juga tidak menyangka Gaeul akan nekat melakukan hal itu. Bahkan aku dan ahjumma tak mencurigainya sama sekali. Aku masih melihatnya disaat hari pemakamanmu waktu itu dan setelah itu yang kutahu dia mendapatkan beasiswa pendidikannya di Paris. Tapi aku tak menyangka kehadirannya di paris justru untuk menjauhkanmu dariku dan ahjumma. Tapi kau harus sadar oppa. Di sini ada aku dan ahjumma yang tidak mungkin membohongimu. Gaeul adalah sahabatmu dan kau memang menyayanginya karena kau mengenalnya hampir di seumur hidupmu, tapi kau sendiri yang mengatakan cintamu hanya untukku. Kau pernah mengatakan kepadaku, kau tidak pernah suka mengubah status persahabatan berubah menjadi perasaan cinta. Kau sudah menganggap Gaeul sebagai adikmu, dan tidak ada seorang adik yang jatuh cinta pada kakaknya atau pun seorang kakak yang jatuh cinta pada adiknya, kau ingat?”

Aku memalingkan wajahku dari tatapannya, memandangi dedaunan yang tertiup angin.

Aku.. aku tidak mengingatnya sama sekali.

*****

Gaeul’s POV

Aku menggenggam ponselku erat sembari menunggu pintu elevator yang membawaku menemuinya ini terbuka lebar. Sadar dengan kenekatan yang kulakukan saat ini. Dengan beraninya aku melangkahkan kakiku kembali di Seoul bahkan menginjakkan kakiku di perusahaan keluarganya. Aku tahu, aku bisa menemuinya di sini karena yang kudengar dia sudah kembali memimpin perusahaan keluarganya.

Aku tidak peduli reaksi apa yang akan ditunjukkannya saat melihat wajahku. Sekali pun dia tidak sudi melihat wajahku lagi, setidaknya biarkan aku yang melihat wajahnya untuk terakhir kali. Dan jika seandainya semua memoriku bersamanya harus berakhir sampai di sini, biarkan untuk sekali saja dia memberikan kesempatan untukku mengatakan semuanya.

Sejak awal aku tahu aku tidak pernah bisa menahannya seumur hidup untuk berada di sisiku. Aku hanya ingin meminta maaf padanya dan berterima kasih meskipun hidupku akan hancur setelah ini, setidaknya aku pernah merasakan bagaimana bahagianya saat dia mengakui diriku sebagai istrinya. Mengakui bahwa aku wanita terpenting di dalam hidupnya untuk beberapa saat.

Dentingan dari pintu elevator itu membuat kepalaku terangkat, seiring dengan pintu itu yang terbuka secara perlahan. Tapi detik berikutnya, aku merasa dunia seakan berhenti saat mataku mendapati tubuh seseorang yang tengah berdiri di depan pintu elevator. Dadaku bergemuruh hebat saat kepala itu langsung memalingkan wajahnya dan tiba-tiba saja langsung berjalan menjauh, menuju tangga darurat.  Lebih memilih menuruni puluhan bahkan ratusan anak tangga hanya untuk menghindariku.

Kupacu langkahku lebih cepat, sedikit berlari mengejarnya yang mulai menuruni anak tangga. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa perih di hatiku saat tanganku berhasil menggapai lengannya. Menahan langkahnya dan memaksa tubuh itu hingga berbalik menghadapku. Aku menahan napasku ketika tatapan dingin itu benar-benar terhunus ke manik mataku.

“Mau apa kau?” ucapnya tajam.

“Untuk sekali ini saja, tolong dengarkan aku, oppa. Aku mohon. Aku bersumpah aku tidak bermaksud mempermainkan hidupmu. Kau mengenalku..”

“Aku tidak mengenalmu!!”

Kalimat itu bagaikan gemuruh yang menggelegar di atas kepalaku. Menahan rasa sakit yang sudah memasuki setiap saraf yang ada di tubuhku. Tanpa sadar cengkeramanku di lengannya lolos begitu saja. Begitu shock dengan ucapan yang begitu menyakitkan.

“Aku tidak mengenalmu, Gaeul~ssi. Aku tidak mengingat siapa pun di dunia ini. Bahkan aku tidak mengingat siapa diriku sendiri hingga semua orang begitu mudah membohongiku.”

“Oppa!!” jeritku tertahan sembari menutup telingaku. Menarik dan menghembuskan napasku dengan tidak sabar akibat sesuatu yang ingin lepas dari rongga dadaku.

Dan seperti mendapat hantaman telak di dadaku saat tangannya menarik kasar tanganku, dan tiba-tiba saja tangannya meletakkan sejumlah uang di telapak tanganku. Membuat mataku terperangah.

“Ini tidak seberapa dengan semua uang yang sudah kau keluarkan untuk biaya pengobatanku. Tenang saja, secepatnya aku akan mengirim orang untuk melunasi semua sisanya. Dan kau tidak perlu menampakkan wajahmu di hadapanku lagi, Gaeul~ssi.”

Tubuhku mematung mendengar makiannya. Sekalipun dia tidak mengenal dirinya, tapi Lee Donghae bukanlah pria seperti ini yang begitu mudahnya menghina orang lain dengan sejumlah uang yang memang tidak berharga bagi keluarganya. Dadaku naik-turun, menunjukkan napasku yang memburu. Detik berikutnya aku kembali menuruni anak tangga itu, mengejarnya yang cukup jauh berada di bawahku.

Aku langsung menarik lengannya saat aku bisa menjangkaunya. “Dengarkan aku oppa.”

“LEPASKAN AKU!!” hardiknya dan tangannya dengan kasar menepis tanganku hingga membuat tubuhnya terdorong ke belakang dan langsung kehilangan keseimbangannya, membuat mataku melotot dan jerit ketakutanku melengking begitu saja melihat tubuhnya yang berguling menuruni beberapa anak tangga hingga tergeletak tak sadarkan diri.

“Ahhhh”

“OPPA!!!”

*****

Aku hanya tertunduk lemah di depan pintu ruang rawatnya. Mengutuk diriku sendiri karena membuatnya terbaring lemah di dalam sana. Seandainya aku tidak memaksanya, mungkin ini tidak akan terjadi. Pria itu.. pria itu memang tidak akan pernah bisa hidup dengan baik jika ada diriku di sisinya. Aku hanya bisa mencintainya tanpa bisa memberikan suatu kenyamanan untuk dirinya.

Aku menghela napasku pelan, berusaha membuat hatiku tenang meskipun pada kenyataannya tak ada ketenangan yang bisa kurasakan saat pria itu celaka. Untuk kedua kalinya aku hampir gila menunggunya di depan pintu ruang rawatnya, memastikan bahwa nyawa itu masih bersarang di dalam raganya. Bahwa napas itu masih keluar-masuk di rongga dadanya. Menakutkan.. sama menakutkannya saat tubuh itu terbaring koma beberapa bulan yang lalu.

Aku mengangkat kepalaku berat saat mendengar derap langkah itu semakin mendekat. Merasa tubuhku lunglai saat melihat wajah sendu yang sudah lama tak kulihat. Mata hangat yang sama dengan yang diwariskannya pada putra tunggalnya, menatapku lekat. Kaki itu semakin mendekat hingga akhirnya berhenti di depan tubuhku. Menatapku intens, tatapan yang tak kumengerti sama sekali, membuat mataku berkedut panas saat tiba-tiba tangannya terangkat. Kupejamkan mataku, bersiap merasakan sakit di pipiku. Aku pantas mendapatkan luapan amarah dari wanita yang selalu memperlakukanku seperti anak kandungnya, tapi aku justru membuatnya merasakan sedih luar biasa karena mengira anaknya telah pergi untuk selamanya. Dan bahkan sekarang aku kembali membuatnya hampir kehilangan putra tunggalnya itu.

Tapi mataku terbuka begitu saja saat kurasakan tangan hangat itu menyentuh pipi kiriku dengan lembut, dan disaat bersamaan aku bisa melihat mata sayu itu tergenang air mata yang mendesak untuk keluar. Matanya menyusuri wajahku untuk sejenak. Aku bisa merasakan dengan sangat jelas sorotan rindu itu begitu besar di matanya. Tanganku bergerak begitu saja, berniat menyentuh tangannya yang masih menempel di pipiku, sedangkan bibirnya bergetar pelan menahan isak tangisnya. Tapi belum sempat aku menyentuh tangannya, tangan lembut itu dengan seketika menjauh dari pipiku dan langsung berjalan melewatiku, seiring dengan air matanya yang menetes, kemudian menghilang di balik pintu ruang rawat itu.

Air mataku tak bisa kutahan. Merasakan belaian hangatnya. Aku merindukannya.

“Ahjumma,” desisku pelan.

“Musibah apa lagi yang akan kau berikan pada Donghae oppa, Cho Gaeul~ssi?”

Nada sinis itu membuatku berbalik dan mendapati seorang gadis berdiri angkuh di hadapanku. Tatapan marahnya berkilat-kilat bagaikan anak panah yang siap mengejar targetnya kapan saja.

“Awalnya aku ingin menjaga perasaanmu. Karena aku tahu ini akan begitu menyakitkan untukmu. Tapi sepertinya kau bukan wanita yang patut dikasihani,” desisnya tajam. Tiba-tiba saja tangannya merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana yang sontak membuat mataku melebar. Undangan pernikahan..

“Aku dan Donghae oppa akan menikah minggu depan. Kuharap hal ini bisa membuatmu mengerti dan menjauh dari hidupnya. Kau tak perlu menemuinya lagi. Kau tak perlu menjelaskan apa pun lagi karena pada kenyataannya itu tak akan mengubah apa pun.”

Aku mengalihkan tatapanku menuju pintu yang tertutup rapat itu. Berusaha menghindari tatapan sinis Eunhye yang seakan menyerangku. Pernikahan? Itu terdengar seperti vonis kematian untukku. Vonis untuk memenggal kepalaku.

“Kau mencintainya ‘kan? Menjauhlah dari kehidupannya, Gaeul~a. Seharusnya kau sadar, cintamu justru selalu melukainya. Dan kau harus tahu, kau memang ditakdirkan untuk mengenalnya terlebih dahulu, tapi kau harus menerima kenyataan bahwa kau tidak ditakdirkan untuk dirinya.”

*****

Kudorong pelan pintu kamarnya, dan tetap berdiri mematung di ambang pintu sembari memandnagi dirinya yang terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus yang tertancap di tangan kanannya.

Perlahan kulangkahkan kakiku mendekati dirinya yang masih tertidur pulas. Berdiri tepat di sisi ranjangnya, membuatku sedikit meringis menahan sakit melihat perban yang melingkar di keningnya. Wajah itu terlihat pucat, membuat mataku sakit untuk memandangnya.

“Seharusnya kau sadar, cintamu justru selalu melukainya.”

“Kau harus tahu, kau memang ditakdirkan untuk mengenalnya terlebih dahulu, tapi kau harus menerima bahwa kau tidak ditakdirkan untuk dirinya.”

“De, aku memang harus menyadari itu,” desisku pelan.

*****

Donghae’s POV

Aku sedikit tersentak ketika telingaku seakan begitu mengenal derap langkah itu. Namun nyatanya mataku tetap terpejam. Berusaha meyakinkan diriku bahwa tidak mungkin gadis itu berada di sini sekarang. Tapi usahaku sia-sia, karena faktanya aku begitu mengenal setiap langkah kakinya.

Hening… aku bisa merasakan dirinya sekarang yang berada di dekatku, meskipun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Entah mengapa terasa begitu menyakitkan berada di situasi sunyi dan hening seperti ini bersama dirinya? Mengapa aku justru begitu ingin mendengar suara gelak tawanya?

Helaan napas beratnya seakan ikut menghimpit dadaku, membuat dadaku memberontak hebat melakukan perang bathin yang aku sendiri tak mengerti.

“De, aku memang harus menyadari itu,” desisan pelan itu begitu kentara di telingaku. Membuatku berusaha mati-matian tak membuka mataku.

“Di dunia ini, mungkin memang tidak ada tempat untukku bersamamu. Meskipun begitu, aku tetap berharap di kehidupan lainnya, di kehidupan yang akan datang aku masih bisa mengenalmu. Masih tetap mencintai dirimu.”

Aku terus berusaha menarik napasku, mengisi rongga dadaku yang tiba-tiba terasa kosong sedangkan sejak tadi udara berlalu lalang begitu saja melewati saluran pernapasanku, anehnya tetap saja membuatku terasa sesak. Begitu sesak mendengar suara bergetar itu.

“Jeongmal mianhe, oppa.”

Dan tanpa kusadar air mataku mengalir begitu saja seiring dengan derap langkah itu yang menjauh.

Sakit.. ada apa dengan diriku?

*****

1 week laters, wedding Day..

Aku memandangi pantulan tubuhku dari cermin yang berdiri gagah di hadapanku. Sejenak aku kuperhatikan tubuhku yang berbalut jas putih, yang tampak begitu pas di badanku. Hari ini.. adalah hari pernikahanku. Semuanya berbahagia hari ini tapi kenapa aku merasa jantungku seakan tak berfungsi? Ada perasaan aneh saat melihat pantulan tubuhku sendiri dari cermin itu.

“Tuan muda, apa anda sudah siap. Semuanya sudah menunggu.”

Kalimat itu menarikku kembali ke dunia nyataku. Kutolehkan sejanak kepalaku pada seorang wanita tua yang berdiri di depan pintu kamarku, menunggu jawaban pasti dari mulutku. Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan sebagai jawabanku. Kemudian bergegas menyambar dompetku yang tergeletak di atas ranjang. Sayangnya tanganku tak begitu tepat meraih dompet itu membuatnya terjatuh hingga terbuka di atas lantai. Untuk beberapa saat aku merasa kehilangan oksigen saat melihat selembar foto yang masih terselip di dalam dompet itu. Sebuah foto yang tiba-tiba saja membuat tubuhku bergetar pelan.

Untuk kedua kalinya.. kedua kalinya aku mengenakan pakaian seperti ini. Jas berwarna putih, sama persis dengan yang kukenakan beberapa waktu yang lalu.

Aku mengalihkan pandanganku dari benda kecil tersebut, memejamkan mataku dan berusaha menarik napas sebanyak yang aku bisa, mengisi rongga dadaku yang terasa kosong.

Itu bukan kehidupan. Aku tidak bisa mengabaikan dan mengorbankan hampir seumur hidupku hanya karena kehidupan yang hanya beberapa bulan, hidup yang penuh kebohongan.

Detik itu juga kulangkahkan kembali kakiku, membiarkan dompet itu tetap berada di lantai tanpa berniat untuk memungutnya sama sekali.

*****

“Disaat aku bisa memilikimu, aku tidak peduli apa yang bisa kau lakukan atau apa yang tidak bisa kau lakukan. Selama aku menjadi istrimu, maka biarkan aku menjadi istri yang baik untukmu.”

Aku mengepal tanganku erat di sisi tubuhku sedangkan mataku terpejam begitu saja. Berusaha menghalau bisikan-bisikan yang tidak ingin kudengar saat ini. Tidak.. kebohongan itu tidak bisa menekanku lagi saat ini. Aku memiliki kehidupan sendiri.

“Karena aku mencintaimu… Jika aku tidak mencintaimu maka aku tidak akan pernah menginginkanmu lebih dari apa pun di dunia ini. Dan karena aku mencintai Lee Donghae, maka kau menjadi satu-satunya orang yang harus menjadi suamiku.”

“Oppa,” desisan pelan dari samping tubuhku membuat mataku terbuka. Sadar bahwa ternyata kepalaku tertunduk sejak tadi. Kutolehkan kepalaku ke samping, melihat wajah seorang gadis yang menatapku dengan tatapan menuntut saat ini, gadis yang berbalut gaun pengantin. Cantik, tapi anehnya jantungku justru terasa sangat sakit.

Gigi-gigi rapinya yang mulai menggigit bibir bawahnya seakan membuatku sadar, membuatku mengangkat kepalaku, memandang lurus dan langsung mendapati seorang pendeta yang tengah menatapku serius, seolah menunggu sesuatu keluar dari mulutku. Dan disaat yang bersamaan aku tahu, bahwa aku tak berkonsentrasi sama sekali dengan prosesi upacara pernikahan yang sedang dilakukan oleh pendeta, bahkan aku tidak sadar bahwa semua orang sedang menatapku penuh makna saat ini, menungguku mengucapkan sumpah pernikahanku.

Aku menelan ludahku sejenak kemudian mengeratkan genggamanku pada tangan seorang gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istriku.

“Aku..”

“Oppa, jika besar nanti aku mencintaimu, bagaimana?”

Aku menggelengkan kepalaku pelan, merasa silau dengan pandangan seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun yang tiba-tiba menatapku manja. Membuat rongga dadaku kehilangan isinya. Sesak dan gelap.

Aku menggelengkan kepalaku pelan, dan menarik napasku dalam, mengusir bayangan aneh itu yang entah tiba-tiba membuat dadaku merasa terhimpit.

“Aku Lee Donghae..”

“Kau itu sahabatku, bahkan sudah seperti adikku. Tidak ada adik yang jatuh cinta pada kakaknya dan tidak ada seorang kakak yang menjadikan adiknya sebagai kekasihnya.”

Dadaku bergemuruh pelan. Kalimat itu seakan berdenging nyaring di telingaku. Membuat tubuhku bergetar hebat melihat gadis kecil itu bergelayut manja di lengannya.

“Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi nantinya. Jika Tuhan menginginkan kita bersama bagaimana?”

“Jika Tuhan menginginkannya, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menolaknya.”

“Jinchayo? Kau harus berjanji oppa. Jika Tuhan menginginkannya, kau tidak boleh menolak cintaku. Jika kau mencintaiku kau tidak boleh berpura-pura tidak mencintaiku, arachie?”

“Ne, yaksokhae..”

“Oppa..” desisan itu kembali terdengar di telingaku.

Aku bahkan bisa merasakan genggamanku di tangannya terlepas begitu saja. Semuanya terasa dingin. Bahkan peluh yang menetes di dahiku terasa bagai air es yang begitu dingin.

“Oppa, kau baik-baik saja?”

“Sebentar lagi aku akan menikah, Gaeul~a!!”

“Andwae… Aku mencintaimu. Aku yang mengenalmu terlebih dahulu. Seharusnya kau memilihku, oppa bukan gadis itu. Aku mengenalmu sejak kecil. APAKAH TERLALU EGOIS JIKA AKU MENGINGINKAN KAU MENJADI MILIKKU, LEE DONGHAE??”

Tanganku bergerak sendiri mengejar rambutku, meremas rambutku dengan kuat, berusaha menghilangkan rasa sakit yang luar biasa karena semua bayangan-bayangan itu seakan meledak keluar dari otakku.

“Donghae~ya, kau kenapa? Donghae~ya kau bisa mendengar eomma?”

“Dia menghianatimu, oppa. Gadis itu bermain gila dengan pria lain di belakangmu. Gadis itu tidak benar-benar mencintaimu, oppa.”

“BERHENTILAH BERUSAHA MENGGAGALKAN RENCANA PERNIKAHANKU, CHO GAEUL!!!!!!!!!!!”

Aku merasa seakan detak jantungku melemah saat bayangan itu berubah. Rasa sakit itu seakan menjalar ke seluruh tubuhku ketika gadis itu melumat bibir seorang pria dengan mesra dan penuh nafsu.

“Apa yang kau lakukan, Song Eunhye??”

“Akhhhhhhhhh” jeritku melampiaskan rasa sakit yang ada di kepalaku. Dadaku menggeram hebat sedangkan tubuhku melemas hingga membuat tubuhku terduduk di lantai. Napasku memburu. Semuanya hitam.. bahkan aku tak tahu apa yang bisa kulihat sekarang. Yang kutahu semuanya menjadi gelap dan yang terakhir kudengar adalah teriakan ibuku.

*****

Aku membuka mataku secara perlahan, dan pertama kali yang kulihat adalah langit-langit putih yang berada di atas kepalaku. Sesaat kutarik napasku kemudian memberanikan diri untuk memandang semua orang yang berada di ruangan bernuansa putih ini, menatapku dengan khawatir.

“Donghae~ya, kau sudah sadar?”

Seorang wanita parauh baya menghambur ke arahku, meletakkan tangan hangatny di pipiku sedangkan sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening lagi.

“Eomma benar-benar takut melihat kau menjerit kesakitan seperti tadi. Kau baik-baik saja ‘kan?”

Aku hanya tersenyum lemah, menjawab semua kekhawatirannya. Kusentuh tangannya yang masih menempel di pipiku, menggenggamnya dan kemudian menciumnya lembut.

“Gwaenchana, eomma,” desisku pelan.

Mata itu membulat, menatapku dengan tuntutan penjelasan yang lebih.

“Eomma?” ucapnya tak percaya.

“Ne, naui Eomma.”

“Kau sudah mengingatnya? Kau benar-benar sudah mengingatnya, Donghae~ya?”

Lagi-lagi aku hanya tersenyum, mengulurkan tanganku untuk menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya.

“Lee Donghae sudah kembali.”

Tubuh ringkih itu langsung memelukku. Terasa begitu hangat. Entah berapa lama aku tak merasakan perasaan seperti ini. Lima bulan.. tapi aku merasa lebih lama dari itu.

“Di dunia ini, mungkin memang tidak ada tempat untukku bersamamu. Meskipun begitu, aku tetap berharap di kehidupan lainnya, di kehidupan yang akan datang aku masih bisa mengenalmu. Masih tetap mencintai dirimu.”

Tanganku yang semula bergerak naik-turun, mengelus punggung ibuku tiba-tiba saja terhenti. Gadis itu..

Kulepaskan pelukan ibuku kemudian mengubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk di atas ranjang berwarna putih ini. Lagi-lagi kuedarkan pandanganku hingga akhirnya aku mendapati seseorang yang berdiri tak jauh dari ranjangku, perempuan yang masih mengenakan gaun pengantinnya, tengah memandangku dengan tatapan yang tak kumengerti. Ada begitu banyak makna yang kutangkap dari sorot matanya.

“Oppa,” desisnya pelan. Ada nada sedih, bahagia dan bersalah dari suara rendah itu.

Aku menyunggingkan senyuman ramahku untuknya, kemudian berjalan mendekatinya. Kuhentikan kakiku tepat di hadapannya, membuat kepala itu sedikit mendongak untuk menatapku. Kuletakkan tanganku di bahunya, kemudian menyingkirkan beberapa anak rambut yang mulai keluar dari tatanan rambutnya.

“Kau cantik, Eunhye~ya,” ucapku pelan. “Mungkin aku terlalu menyakitimu hari ini, tapi aku tidak bisa melakukannya..”

Aku menarik tanganku cepat dan siap melangkahkan kakiku keluar ruangan. Tapi tangannya dengan cekatan menarik pergelangan tanganku, membuat langkahku ikut terhenti. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan mendapati matanya yang berair tengah menatapku, tatapan memelas.

Kepalanya menggeleng pelan seolah ingin mencegahku melakukan apa yang sudah terlintas dengan matang di otakku saat ini. Hal yang tidak mungkin bisa kuurungkan. Aku sudah melakukan kesalahan satu kali, dan aku tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Perlahan kulepaskan tangannya dari pergelangan tanganku, membuat mata itu semakin merah dan banjir akan air mata.

“Maafkan aku, Eunhye~ya.”

*****

Flashback, 6 Months ago, Author’s POV

“Sebentar lagi aku akan menikah, Gaeul~a!!”

Nada riang itu sangat kontras dengan ekspresi seorang gadis yang duduk di hadapannya. Mata gadis itu melebar sempurna dengan tatapan tak percaya, menatap pria di hadapannya yang terlihat begitu gembira.

“Aku sudah melamar Eunhye, dan dia menerimanya. Maaf, aku akan melepas masa lajangku terlebih dahulu daripada dirimu,” timpal pria itu lagi dengan nada bercanda.

“Andwae..”

Desisan itu terlalu pelan, nyaris tak terdengar. Sadar tak mendapati respon seperti yang diinginkannya, senyum kekanakan itu lenyap dengan seketika. Hentakan jantungnyas langsung berubah melihat wajah tertunduk itu dengan ekspresi yang begitu dingin.

“Ka.. Kau tidak suka mendengarnya?”

Kepala itu terangkat, dan hitungan detiknya pria itu terkesiap melihat mata indah yang berair itu. Air matanya menggenang di pelupuk mata cantik itu, terlihat memberontak untuk keluar, membuat dahinya berkerut begitu saja.

“Ka.. kau kenapa? Kau tidak suka mendengar aku akan menikah? Kau tidak menyukai Eunhye? Tapi bukankah kau juga sudah mengenalnya cukup baik?”

“Aku.. Aku sudah bersusah payah untuk merelakanmu memilih gadis lain, bahkan bertunangan dengan gadis itu. Tapi sekarang aku tidak bias diam saja melihat kau akan menikah,” ucapnya tajam.

Mata itu menatap nanar pria yang berdiri di hadapannya, seolah ingin menunjukkan pada pria itu rasa sesak yang ingin meledak di rongga dadanya. Air mata yang semula hanya menggenang dipelupuk matanya, secara perlahan mendesak keluar dan menetes di pipi mulus yang kemerahan itu.

“Aku mencintaimu. Aku yang mengenalmu terlebih dahulu. Seharusnya kau memilihku, oppa bukan gadis itu. Aku mengenalmu sejak kecil. APAKAH TERLALU EGOIS JIKA AKU MENGINGINKAN KAU MENJADI MILIKKU, LEE DONGHAE??”

Sontak mulut itu membuka, efek keterkejutannya yang luar biasa. Gadis itu.. gadis yang berdiri di hadapannya, tiba-tiba saja menjadi sosok yang begitu tak dikenalnya. Gadis itu.. bukan gadis yang dikenalnya selama ini.

“Kau… Kau sahabatku, Gaeul~a..”

 

End of flashback

 

*****

Gaeul’s POV

Aku meringkuk di sudut kamar yang beberapa waktu lalu menjadi saksi semua aktivitas yang dilakukannya di ruangan ini. Memandangi ranjang yang sekarang terlihat sangat rapi, menunjukkan tak ada satu orang pun yang menyentuhnya. Mataku bergerak liar memandangi seluruh penjuru kamar dan terasa dadaku di tikam oleh sebilah pisau saat melihat meja kecil yang selalu kugunakan untuk meletakkan tehnya disetiap pagi hari.

Aku menggigit jari-jemariku sendiri untuk menahan isak tangisku. Mengingat kenyataan bahwa pria itu tak pernah berusaha membuka hatinya untukku, berusaha untuk mencintaiku, seakan-akan adalah neraka hidup yang harus kulalui mulai saat ini.

Pria itu benar-benar akan menghilang dari hidupku mulai saat ini. Tak ada kesempatan lagi untukku mencoba masuk ke dalam hatinya karena faktanya hari ini takdir sudah meneriakkanya di telingaku bahwa pria itu tak akan pernah bisa menjadi takdirku. Pria itu akan selalu menjadi milik gadis lain, Song Eunhye.

Aku menggigit bibir bawahku melihat sebuah undangan yang tergeletak lusuh di sampingku. Bukti nyata bahwa apa pun yang kulakukan tak berarti sama sekali untuknya. Aku hanyalah sahabat hidupnya, bahkan sekarang pun gelar itu tak layak untukku. Dia benar-benar sudah membenciku.

Kupeluk dengan erat kedua lututku, seolah hal itu bisa menghilang sedikit rasa sesakku, membenamkan kepalaku di antara lutut itu. Meredam isak tangis yang tak bisa kuredam lagi.

“Selamat tinggal, Lee Donghae.”

*****

Donghae’s POV

Aku menarik pelan kenop pintu rumah kecil yang sempat menuliskan kisah hidupku yang lalu selama beberapa waktu. Tapi sedetik kemudian mulutku langsung menganga ketika mendapati bahwa ternyata pintu rumah ini tak terkunci sama sekali. Mataku pun seakan bereaksi sama dengan debaran jantungku yang langsung menghentak-hentak kuat saat melihat ruangan ini terlihat tak terurus sama sekali. Begitu banyak debu yang menempel di atas meja atau pun perabotan rumah tangga lainnya, sedangkan diriku tahu pasti gadis itu tidak pernah tahan dengan keadaan yang terlihat seperti kapal pecah ini. Rumah ini benar-benar sunyi, terlihat seperti tak berpenghuni.

Kulangkahkan kakiku masuk lebih dalam dan langsung tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka lebar. Kosong…

Aku mengalihkan pandanganku pada pintu kamar yang tertutup rapat di samping kamarnya. Ruangan kecil yang kuhuni selama empat bulan. Ruangan kecil yang selalu merekam setiap jejak kaki dan tangannya pada semua barang yang tertata rapi di kamar itu.

Kutarik napasku dalam sesaat sebelum menarik kenop pintu itu dan detik berikutnya aku hanya diam terpaku di ambang pintu melihat seorang gadis yang mengenakan piyama berwarna biru, piyama yang langsung menenggelamkan tubuh mungilnya. Piyama yang pernah diberikannya untuk diriku.

Kulangkahkan kakiku pelan kemudian berlutut di sampingnya. Menyentuh bahu itu dengan lembut dan dengan seketika membuat tubuh itu terkulai lemas di pelukanku. Membuatku mengutuk diriku sendiri saat melihat wajah lusuhnya yang dikotori dengan air mata. Mata indah yang sembab itu terus terpejam, tertutup rapat tanpa ada tanda-tanda akan membuka dan memandang wajahku seperti semula. Begitu terlelap di dalam kekacauan hatinya.

Seandainya waktu itu aku bisa mempercayai ucapannya, tidak dibutakan oleh perasaanku terhadap Eunhye mungkin semua ini bisa dihindari. Andai saja aku bisa membuka telingaku dengan baik saat dia mencoba memberitahuku bahwa gadis itu mulai menghianatiku. Harusnya aku sadar, gadis yang sudah kukenal selama lima belas tahun ini tidak mungkin menyesatkan hidupku. Seharusnya aku berterima kasih bukannya justru membentaknya kasar pada waktu itu. Hingga akhirnya aku melihatnya dengan mataku sendiri. Melihat tunanganku justru menikmati ciuman panas dari pria lain, membuatku kalap dan mengemudikan mobilku menggila hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi.

Entah berapa banyak air mata yang sudah kau keluarkan untukku? Kenapa kau selalu membuang apa pun secara percuma hanya untukku, Gaeul~a?

*****

Gaeul’s POV

Aku mengerjapkan mataku pelan saat rohku kembali ke dalam tubuhku dan disaat bersamaan tubuhku mengejang dengan seketika saat kusadar bahwa aku tidur di atas ranjang dan ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangku. Dengan paksa kubuka mataku lebar-lebar dan langsung menganga mendapati seorang pria yang tengah tertidur pulas di sampingku. Seorang pria berkemeja putih dengan beberapa kancing teratasnya terbuka begitu saja sedangkan jas putihnya tergeletak di atas sebuah sofa kecil yang ada di kamar ini. Sontak aku langsung menyingkirkan tangan itu dan bangkit dari tidurku, bergerak mundur hingga akhirnya aku meringkuk di sudut ranjang.

Tidak… aku tidak mungkin gila. Aku tidak mungkin berhalusinasi. Pria itu tidak akan menoleh ke arahku apa lagi kembali kepadaku.

Lenguhan pelan itu membuat mataku kembali menatap wajahnya. Tubuhnya menggeliat pelan, membuat ranjang ini berdecit pelan. Aku menggelengkan kepalaku pelan, berusaha menyadarkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah halusinasiku, keinginan bawah sadarku. Tapi senyuman itu. Senyuman itu terasa begitu nyata tertuju untukku.

“Tidak ada teh untukku?” ucapnya dengan suara serak sembari melirik meja kecil yang ada di samping ranjang ini.

Aku terperangah mendengarnya dan seakan pipiku ditampar saat tubuhnya bergerak pelan mendekatiku, menatapku dengan intens.

“K-kau.. Ke-kenapa kau bisa berada di sini?”

“Bukankah seorang suami harus tinggal bersama istrinya dan seorang istri harus tidur satu ranjang dengan suaminya?”

Sontak kepalaku menggeleng dengan cepat. Semuanya terasa berputar di kepalaku.

“Tidak.. tidak mungkin. Ini pasti cuma mimpi. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon jangan menghukumku dengan siksaan seperti ini.”

Tapi wajah itu bergerak cepat mendekatiku dan sedetik kemudian memberikan kecupan ringan di bibirku, seakan berusaha membuatku sadar bahwa ini bukan mimpi. Membuat mataku mengerjap shock atas tindakannya.

“Kecupan selamat pagi,” ucapnya seolah tak peduli dengan detak jantungku yang tiba-tiba saja melemah. “Aku selalu berkhayal akan mendapatkan hal itu setiap pagi saat aku memiliki istri. Jadi, kau harus terbiasa melakukannya mulai besok pagi,” sambungnya lagi kemudian mulai merengsek turun dari atas ranjang.

Entah setan apa yang mendorong tubuhku hingga aku berlari di atas ranjang dan langsung menarik bahunya saat aku berada di tepi ranjang, membalikkan tubuhnya dengan sedikit kasar hingga menghadap ke arahku. Membuat kepalanya mendongak menatapku yang terlihat lebih tinggi darinya karena pijakanku di tepi ranjang.

“Aku tahu kau membenciku,” ucapku sedikit tersendat. Tenggorokanku terasa begitu sakit menahan isak tangis yang memaksa untuk keluar. “Kau membenciku, tapi haruskah kau membalasku dengan kebohongan pula?”

Sejenak mata itu mengalihkan pandangannya dariku, tapi sedetik kemudian tangannya bergerak menyentuh kedua tanganku yang berada di sisi tubuhku, menarikku hingga melangkahkan kakiku beranjak dari tepi ranjang, menginjakkan kakiku di lantai yang terasa begitu dingin dan kemudian menarik tubuhku lebih mendekat.

Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya nanar. Tak bisa kusembunyikan genangan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk mataku. Dan tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku saat tatapan hangat itu kembali kurasakan, tatapan favoritku dari kedua bola matanya.

“Jika Tuhan menginginkannya, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk menolaknya.”

Air mataku menetes begitu saja ketika kalimat itu meluncur sempurna dari bibirnya seiring dengan tangannya yang menyentuh pipiku, merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang kokoh.

“Kau mengenalku sejak kecil dan kau tau aku tidak suka bermain dengan kebohongan. Aku sangat membenci kebohongan yang kau buat, tapi aku juga tidak menampik bahwa aku berterima kasih atas kebohongan itu. Kebohongan itu membuatku sadar bahwa aku memang membutuhkan dirimu bukan sebagai sahabatku, tapi sebagai wanitaku. Maaf, membuatmu terlalu lama menungguku hanya untuk menyadari perasaan itu.”

Aku menggelengkan kepalaku pelan dan langsung melingkarkan tanganku di pinggangnya, menempelkan kepalaku di dadanya dan membiarkan air mataku membasahi kemeja putihnya.

“Lagi pula aku hanya mencoba bersikap baik untuk menyelamatkan hidup seorang gadis yang mungkin saja bisa mati karena dehidrasi akibat air matanya yang terus mengalir jika saja aku menikah dengan gadis lain, atau menyelematkan pria-pria di Negara ini yang mungkin saja akan merasa terpaksa menjadi pasangan hidupmu.”

Aku terkekeh pelan sembari memukul dadanya dengan gemas, membuat air mataku dengan seketika mengering karena dekapan eratnya, belaian lembutnya di punggungku.

“Jangan bicara sembarangan, oppa. Kau masih mengingat temanmu yang bernama Choi Siwon kan? Hanya wanita buta yang berani mengabaikan ketampanannya dan asal kau tau, sosok pangeran itu bahkan pernah menyatakan cintanya kepadaku. Choi Siwon itu jauh lebih tampan darimu,” sungutku manja sembari memainkan kancing kemejanya yang terbuka dan sesekali menghisap cairan di hidungku akibat air mata yang beberapa waktu tadi mengalir karenanya.

“Mwo?” geramnya dan langsung menarik bahuku hingga menjauh dari dekapannya. Menatapku gusar dengan  sungutan khas di bibirnya. Lee Donghae memang benar-benar sudah kembali.

“Jadi kau ingin mengatakan kau tertarik pada Choi Siwon itu? Ahhh bagus, sekarang pergilah ke rumahnya, aku akan memberi alamat rumahnya kepadamu. Setelah itu kau bisa menyatakan cintamu padanya dan memintanya untuk membawamu ke gereja. Lalu aku? Aku akan mencari wanita lain dan menikahinya.”

Aku menggeleng pelan dan kembali menyandarkan kepalaku di dadanya. Membuat tubuh itu sedikit merajuk, memberontak pelukanku meskipun pada akhirnya tetap mengalah dan membiarkan tanganku kembali melingkar di pinggangnya.

“Choi Siwon memang tampan,” ucapku lirih.  “Tapi dia tidak pernah membuatku menangis sedikit pun. Dan aku? Aku tidak akan pernah meneteskan air mataku untuk seseorang yang kuanggap tak penting di dalam hidupku.”

Sejak aku menginjak usia remaja, aku mulai sadar aku memang tidak pernah menganggapnya sebagai sahabatku lagi atau seorang kakak. Awalnya ucapanku sewaktu kecil kuanggap pikiran polos masa kanak-kanakku, tapi ternyata itu justru menjadi tujuan hidupku. Menjadi alasanku untuk tetap hidup di dunia ini, dengan berharap suatu saat dia juga menjadikan diriku sebagai alasannya untuk melanjutkan hidup di dunia ini.  Bahkan meskipun hidupku hampir hancur karena kematian orang tuaku yang secara tiba-tiba masih bisa kulalui dengan benar, karena aku sadar ada seseorang yang akan langsung menyanggah tubuhku saat aku terjatuh, dengan alasan apa pun itu, sebagai sahabat atau pun gadis yang dicintainya. Tapi untuk saat ini, aku tidak peduli, aku tidak ingin menuntut apa pun lagi darinya. Aku tidak akan menuntutnya untuk memberikan cinta yang sangat besar untukku. Mendapati kenyataan bahwa hatinya mulai terbuka untukku, matanya mulai melihatku sebagai seorang wanita itu sudah lebih dari cukup.

“Maaf, aku membuatmu banyak menangis.”

Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku. “Tidak.. Tapi terima kasih karena kau sudah belajar membuka hatimu untukku.”

“Hmmm…” gumamnya pelan. “Tapi aku tidak pernah belajar membuka hatiku, hanya saja aku terlalu bodoh bahkan tak menyadari kau yang sudah menyusup masuk tanpa seizinku. Penyusup kecil, heh?” sambungnya lagi dengan nada bercanda, membuat perutku tergelitik geli, tak kuasa menahan kekehanku.

 Tangannya lagi-lagi melepaskan pelukanku. Tapi kali ini tangannya menyentuh wajahku, menyelipkan rambutku yang terurai di balik kupingku sedangkan matanya berfokus pada manik mataku. Aku sedikit menahan napasku saat kening itu bergerak maju dan menempelkannya pada keningku.

“Sekarang, bersiaplah.”

“Ne?” tanyaku bingung.

Dengusan napas itu keluar begitu saja dan langsung menyapu hangat wajahku.

“Eomma sudah menunggu di gereja. Jadi, jangan membuat eomma-ku lebih lama menunggu.”

Aku langsung menarik wajahku dan mengerjapkan mataku shock. Mencoba berpikir apa yang sebenarnya sedang dibicarakannya.

“A-apa maksudmu, oppa? Lalu kenapa ahjumma berada di gereja?”

Aku menyipitkan mataku takut saat melihat ekspresi geramnya yang entah tiba-tiba saja terlihat begitu mengerikan. Gigi atasnya bergerak menggigit pelan bibir bawahnya seolah melampiaskan kekesalannya sedangkan tangannya berada di pinggangnya, membuatnya terlihat begitu angkuh.

“Yak Cho Gaeul jangan katakan kau tetap ingin menjalankan hubungan suami-istri ini dengan pernikahan konyol yang kau buat tanpa sumpah di depan pendeta dan surat pernikahan yang resmi!!”

“MWO???”

The end…