Cokelat “Pink”

Standar

3867707367

KOMPAS.com – Setelah 80 tahun, dunia akhirnya mengenal jenis cokelat baru, yaitu pink chocolate atau cokelat jambon. Cokelat ini pun seakan ditakdirkan muncul di era makanan berwarna cerah, yaitu era makanan Instagramable.

Pada September 2017 lalu, produsen cocoa terbesar di dunia, Barry Callebaut, yang berbasis di Swiss, memperkenalkan cokelat pink. Saat ini, cokelat jambon masih belum banyak beredar di pasaran.

Belakangan, cokelat jambon ini hadir di toko-toko di Jepang dan Korea Selatan, lima bulan setelah Barry Callebaut memperkenalkannya untuk kali pertama. Bahkan, pada awal tahun ini, KitKat di Jepang meluncurkan produk KitKat yang menggunakan cokelat pink tersebut dalam edisi terbatas.

Cokelat dan warnanya yang merah muda sangat identik dengan hari Valentine. Pihak Barry Callebaut mengklaim bahwa inilah cokelat dengan warna cokelat alami terbaru sejak Nestle memperkenalkan cokelat putih lebih dari 80 tahun yang lalu.

Cokelat jambon ini disebut sebagai cokelat Ruby. Sama halnya warna putih pada cokelat susu, warna merah muda pada cokelat Ruby merupakan warna alami yang dihasilkan dari biji kokoa Ruby.

Perlu waktu selama 13 tahun bagi Barry Callebaut untuk mengembangkan cokelat Ruby, mulai dari kali pertama menemukan jenis biji kokoa baru ini hingga masa eksperimen di laboratorium.

Peter Boone, Ketua Divisi Inovasi dan Kualitas untuk Barry Callebaut, menyebutkan bahwa cokelat Ruby ibarat kesenangan sejati yang cocok untuk para hedonis.

Rasanya dideskripsikan sebagai percampuran antara rasa buah beri dan kelezatan halus. Selain itu, tidak ada tambahan pewarna maupun rasa ke dalam cokelat Ruby untuk menghasilkan warna merah muda.

Warna merah muda tersebut muncul dari bubuk yang diekstraksi selama proses pengolahan biji kokoa Ruby. Menurut pembuatnya, rasanya tidak semanis susu cokelat, melainkan lebih ke rasa yang ringan.

Biji Ruby tumbuh di daerah Ivory Coast, di kawasan negara Ekuador dan Brasil. Boone mengklaim bahwa tanaman tumbuh secara alami dan bukan dimodifikasi secara genetik.

“Kami tidak menambahkan perasa, kami tidak menambah pewarna, atau bahan tambahan lainnya. Itu asli keluar dari bijinya dan semuanya alami. Ini merupakan dedikasi riset bertahun-tahun dan proses seni (artisanal) dalam pembuatan cokelat. Tetapi kami beruntung menemukan potensi biji ini sejak 13 tahun yang lalu,” kata Boone.

Perlu lebih dari satu dekade bagi Barry Callebbaut untuk benar-benar mengerti bagaimana memproses cokelat Ruby. Namun, kehadiran cokelat merah muda ini ke pasaran bertepatan dengan kehadiran sosial media.

Tren global saat ini adalah mengubah makanan sehari-hari menjadi hidangan penuh warna cerah sehingga tampil cantik  untuk dipamerkan di media sosial. Contoh saja mulai dari tren makanan berwarna serba ungu hingga makanan serba berwarna pelangi.

Barry Callebaut melihat tren ini dan menggunakannya dalam strategi pemasaran mereka. Boone menyebutkan cokelat Ruby akan memuaskan kesenangan “hedon” para generasi milenial.

4270345855

“Ini sangat cocok dengan tren makanan saat ini, jadi saya pikir pasar akan merespon sangat positif terhadap ini (cokelat Ruby),” ungkap Ruby.Pihaknya masih terus membuat cokelat ini bisa tersedia untuk dikonsumsi di seluruh dunia. Boone menuturkan bahwa cokelat Ruby sudah bisa dinikmati masyarakat umum mulai tahun 2018. Ia berharap cokelat merah muda bisa setenar para pendahulunya yaitu cokelat putih, cokelat susu, dan cokelat putih.

Hadir di Jepang

Cokelat pink menjadi seperti pernikahan yang sempurna untuk obsesi orang Jepang terhadap hari Valentine. Sekarang, orang Jepang bisa memberikan cokelat pink saat Valentine.

Toko KitKat di Ginza, Tokyo, penuh dengan warna pink dan mempromosikan cokelat pink sebagai jenis cokelat keempat setelah susu, hitam, dan putih. Para penjual juga memilih hari yang tepat untuk menjual produk ini yaitu saat hari Valentine.

Tradisi Hari Valentine di Jepang begitu kental yaitu perempuan memberikan hadiah pada laki-laki yang ia sayang, biasanya cokelat. Pada hari ini, perputaran bisnis cokelat dan barang bertema Valentine begitu tinggi.

Akiko Hara, manajer untuk Barry Callebaut di Jepang, menuturkan cokelat Ruby tidak menggunakan pewarna buatan karena semuanya alami dari tanaman tersebut. Ia mengakui resep cokelat itu rahasia. Hasilnya adalah cokelat yang creamy dan selintasan terasa buah, seperti buah rapsberry.

Jepang dipilih sebagai tes pasar untuk jenis cokelat ini karena pasar cokelat di Jepang bisa mencapai 5 milyar dollar AS per tahun, menurut riset grup Euromonitor. Angka ini memang jauh dibanding Amerika Serikat, tetapi menjadi teratas di antara negara-negara di Asia.

Berdasarkan riset dari Kinenbi Culture Laboratory, kelompok penelitian mengenai festival Jepang, diperkirakan tahun ini masyarakat Jepang akan menghabiskan uang 130 milyar yen untuk cokelat hari Valentine atau sekitar 1 milyar dollar AS.

Tradisi Jepang saat Valentine yaitu perempuan memberikan cokelat pada laki-laki merupakan akibat dari kampanye promosi pada akhir tahun 1950-an.

“Laki-laki akan membalas pemberian ini sebulan kemudian di perayaan yang disebut ‘White Day’, saat itu perempuan mendapatkan hadiah dari laki-laki sebagai balasan atas hadiah yang diberikan saat Valentine,” ungkap Megumi Matsunaga, seorang analis di Euromonitor.

Penulis: Ni Luh Made Pertiwi F
Editor: Wahyu Adityo Prodjo
Sumber:
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s